Rabu, 08 Juni 2011

Percaya diri

Entah kenapa hari ini rasanya aku minder banget, dimulai dengan hari yang cukup buruk karena kepalaku sakit dan rasanya badan pegal semua, dan teringat segala kegiatan hari ini. Akhirnya aku lagi2 menahan segala kegiatan ku dan sekali lagi kupikir aku bisa mengerjakannya besok.
Dasar manusia, hari ini baru dimulai tapi sudah banyak kegiatan yang kutunda, dan berpikir bahwa besok aku masih bisa menhiruop udara segar kota Jogja dan melihat terangnya mentari pagi.

Aku bingung benar-benar bingung, entah kenapa aku jadi mulai jarang sekali bersyukur atas nikmat-NYA. Dengan kesal aku menahan keinginanku untuk sms cewe ku, 2,5 tahun lebih aku pacaran dengannya, tapi kenapa dari waktu ke waktu aku malah semakin seperti anak kecil, tingkat kemanjaan ku meningkat jauh lebih tajam dibanding skala aman Dieng saat ini.
Hari ini benar-benar kulalui dengan biasa tanpa satupun hal yang spesial, kecuali beberapa jam yang lalu dimana aku mulai sms an dengan pacarku.
Di tengah obrolan kami, tiba-tiba aku berkata padanya "sayank, jika suatu ketika ada orang yang lebih baik dariku, sayank bole kok ninggalin aku"
dan tentunya, ceweku marah dan jengkel dengan kata-kata ku itu. Memang benar bahwa aku dan dia sudah saling mencintai luar dalam dan saling menerima satu sama lain, bahkan impian2 berkeluarga sudah selalu terbayang di benak kami berdua.

Well then, kami bukan anak kecil lagi yang berpikir bahwa pacaran itu hanya untuk mencari kesenangan dan main-main saja. Bagi kami berdua, kami saling mengisi kekurangan satu sama lain, saling mengingatkan dimana kami lupa akan dunia, saling menerangi jalan impian kami berdua, dan tentunya saling menguatkan disaat kami berdua berada di saat- saat terberat kami dan selalu berbagi segala hal bersama.
Tapi, aku ini bukan dari keluarga yang kaya ataupun mapan. Yang aku miliki hanya "cinta" dan itulah modal ku, sebuah hal yang begitu abstrak, undefined, tak dapat dijelaskan tak dapat diartikan tak dapat di tunjukkan. Cinta seperti rasa umami, sesuatu yang tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan.

Kadang aku mengeluh kenapa aku dilahirkan pada keluarga miskin, atau bahkan kenapa aku berada di kehidupan dimana aku begitu tersiksa hampir sepanjang umur ku (note: ini tidak melebih-lebihkan) memang benar diluar sana masih banyak yang jauh lebih tersiksa dengan kehidupannya, dan kenapa aku begitu bodoh untuk tidak bersyukur atas semua yang aku miliki saat ini.
Aku tak mengenal kata putus asa, tapi saat ini aku mengenal rasa takut. Takut aku tak mampu lagi bertahan diantara cobaan ini, takut aku tak dapat menhidupi keluarga ku, tak dapat menanggung istri dan anak ku kelak.

Aku benar-benar ingin berteriak "YA ALLAH, AKU INI HANYA BOCAH YANG TELAH KEHILANGAN MASA KANAK-KANAKNYA SEJAK LAMA, DAN SEJAK UMURKU MASIH 8 TAHUN AKU HARUS MENANGGUNG BEBAN KELUARGA YANG BEGITU BERAT, DAN SAAT INI AKU HARUS MENGINGAT BAHWA AKU HARUS TETAP BERJUANG UNTUK MENDAPATKAN REZEKI AGAR DAPAT MENIKAHI PACARKU YANG PALING AKU CINTA, YA ALLAH, BUKAKAN JALAN MU YANG MUDAH BAGI KU YA ALLAH. AKU HANYA INGIN AGAR AKU BISA KULIAH LAGI DAN DAPAT SELALU BERSAMA DENGAN PACARKU, HINGGA AKU DAPAT MENIKAHINYA MEMBANGUN KELUARGA BERSAMA DIA, DAN AKU MEMILIKI KEHIDUPAN YANG MAPAN."

Terima kasih atas berkah mu hari ini ya Allah, terima kasih engkau telah memberikan aku seseorang yang masih percaya aku mampu menhadapi cobaan Mu, dan mau mencintaiku disaat aku benar-benar kehilangan orang-orang yang kucintai

Dawai Pelangi

Jumat, 12 Februari 2010

Ragnarok Novel Part X

Part X Born To be Sharp Eye

Jauh di utara Kerajaan Rune Midgard, di daerah Republik Schwaltzvald di kota besi dan berbagai benda metal lainnya. Kota yang dikenal dengan kondisinya yang penuh dengan besi dan metal, kota yang dibangun tanpa kayu atau tanah dan beton, namun dibangun dengan metal, besi, baja, dan yang lainnya. Einbroch adalah kota besi yang dikelilingi daerah berbukit dengan sedikit tanaman. Area yang merupakan daerah penuh pertambangan. Pabrik kosong dan bekas penambangan banyak ditemukan di daerah sekitar Einbroch. Di Einbroch juga terdapat jalur kereta api yang menghubungkan Einbroch dengan Einbech. Einbech adalah kota satelit Einbroch. Di kota ini terdapat sebuah tempat penambangan tua yang dihuni oleh berbagai macam monster.

Eibroch juga merupakan kota perindustrian yang ditutupi dengan kabut tebal dari pabrik-pabrik yang beroperasi disana. Penduduknya memiliki kepribadian yang tertutup, bahkan kriminalitas di kota ini begitu tinggi. Keadaan kota yang seperti ini mengakibatkan banyak sekali anak-anak yang dari kecil sudah berusaha untuk bertahan hidup, tak jarang di jumpai anak-anak ini mencuri dan merampok hanya untuk bertahan hidup.

Di satu sudut kota terlihat sekelompok orang dengan badan yang besar dan memiliki otot-otot yang kekar membawa beberapa senjata sederhana berupa tongkat besi atau pun batu lempar. Sekelompok orang ini mengepung seorang anak kecil yang berada di depan sebuah tembok yang terlihat bahwa itu adalah jalan buntu tanpa ada tempat untuk lari lagi.

“Hei bocah! Berani beraninya kau mencuri makanan kami? Kau belum tahu siapa kami hah???!!!” ucap salah seorang dari mereka yang terlihat seperti pemimpin kelompok ini, wajahnya kotor dengan kepala botak yang terlihat sedikit kusam karena keadaan lingkungan yang kumuh.

“maa…maa…maafkan saayaaa tuan. Ta…tapi saya belum makan selama beberapa hari, saya lapar…” ucap seorang remaja berumur sekita 13 tahunan dengan rambut acak-acakan berwarna merah.

“masa bodoh!!! Aku tak peduli kau sudah makan atau belum, tapi kau telah mengambil makanan dari kami! Geng Cleave! Geng yang menguasai daerah disini!” ucap laki-laki botak yang berada di depan kelompok dengan membawa

“sudah bos, kita hajar saja dia!” ucap seseorang dibelakang pria botak itu. Pria ini sedikit lebih kurus dibanding si pria botak, rambutnya panjang terurai dengan kusut.

Ketika pria berambut panjang itu mulai memerintah teman-temannya untuk menghajar remaja malang itu, terdengar sahutan-sahutan kemarahan dari anggota lainnya. Mereka beriringan maju dengan senjata yang mereka genggam satu persatu.

Saat ketua geng Cleave itu mendekat dan bersiap untuk memukul remaja itu tadi, tiba-tiba sebuah kerikil melayang dengan kecepatan tinggi dan mengenai dahinya dan membuat dia jatuh tersungkur.

“Siapa kau! Berani-beraninya melempar ku dengan batu! Keluar kau!!” teriak kepala geng itu dengan dahi terluka dan mengeluarkan darah segar.

Tiba-tiba dari atas atas rumah di sebelah kanan ketua geng itu, muncul seorang remaja yang sedikit lebih tua dibanding remaja yang tadi. Tubuhnya sama lusuhnya dengan remaja tadi, namun pancaran wajahnya dan juga sorotan matanya begitu tajam dan tegas seakaan tidak takut akan apapun.

“Heh, Haccont! Kau bilang ini daerah kekuasaan mu? Ingin kuhajar lagi kau? Pergi dan jangan ganggu teman ku lagi, atau kau ingin kerikil ini tidak hanya mengenai kepala mu, tapi menembus otak mu yang kecil itu!” ucap remaja yang sedang berdiri di atas atap itu. Dengan gerakan cepat ia melompat turun dari atap dan jatuh tepat di samping remaja temannya yang sedang ketakutan itu.

“Xa…Xavier, apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya hari ini kau mengikuti ujian?” ucap remaja yang saat ini raut ketakutan di wajahnya sudah sedikit menghilang.

“tenang, jangan kau pikirkan ujian ku. Kau tidak apa-apa kan Garvin?? Sudah biarkan aku mengurus mereka.” Tanya Xavier dengan senyum tenangnya.

Setelah melihat keadaan Garvin, ia pun berbalik dan bersiap menghadapi geng Cleave yang mereka pun sudah semakin marah setelah mendengar perkataan Xavier tadi.

“jadi kalian ingin aku yang mulai?? Baik, akan kuselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit. Karena 15 menit lagi ujian ku dimulai.” Ucap Xavier dengan senyum tenang khasnya.

Seketika itu amarah dari anggota Geng Cleave semakin menjadi, dan tanpa banyak bicara mereka langsung menyerang Xavier dengan raungan amarah dan senjata yang diacungkan ke atas. Dengan tenang Xavier mengambil beberapa kerikil yang ada di sakunya dan langsung melemparkannya ke arah geng Cleave yang sedang merangsek maju.

Seluruh kerikil, yang ia lempar tepat mengenai dahi para anggota Geng Cleave dan membuat mereka jatuh pingsan. Jauh dibelakang orang-orang itu, ketua Geng Cleave yang tadi tersungkur sekarang telah bangkit dan mengambil sebuah senjata api berbentuk pistol dan mengarahkannya ke arah Xavier yang sedang lengah. Segera ia menembakkan sebuah peluru ke arah Xavier yang sedang tidak focus, Garvin yang sedang bersembunyi di belakang melihat itu dan sesaat sebelum peluru itu mengenai tubuh Xavier, ia mengorbankan dirinya untuk melindungi Xavier dari peluru tersebut. Ketika Xavier melihat kejadian itu, ia meraung dan melemparkan sebuah butir kerikil yang tertinggal di tangannya ke arah Ketua Geng itu. Dan langsung menembus perutnya sehingga ia seketika roboh di tempat tak bernyawa.

“Garvin!! Kau tidak apa-apa kan, jangan bercanda Garvin!! Ini hanya luka ringan!! Bertahanlah!!” teriak Xavier yang segera berlari ke arah Garvin dan berlutut di samping tubuh Garvin yang lemas tak berdaya dengan darah mengalir dari perutnya.

“Xa…Xavier, maafkan aku yaa… aku selalu menyusahkan..mu. Sampai saat sebelum kau ujian…pun…aku masih menyusahkan mu….” Ucap Garvin yang mulai kehilangan kesadaran dirinya.

“diamlah Garvin! Aku akan membawa mu ke rumah sakit! Bertahanlah!” ujar Xavier yang semakin cemas dengan kondisi sahabatnya itu.

“ti..ti..tidak perlu…aku sudah tidak bisa bertahan..lagi… aku hanya ingin, untuk terakhir kalinya…kabulkan 1 permintaanku ini…” Ucap Garvin dengan nada terbata-bata.

“apa kah permintaan..mu…itu Garvin hh..hh…” ucap Xavier dengan air mata yang mulai memenuhi kantung matanya.

“aku ingin..kau…untuk…kau lulus dari ujian hari ini…dan berjuanglah menjadi yang ter..baik…dari semuanya…agar kau mampu…menyelamatkan teman-teman kita…uhuk..huk..yang lain…” ucap Garvin dengan keadaan tubuh yang semakin lemas.

“iya…BERTAHANLAH GARVIN!” teriak Xavier dengan air mata yang sekarang mengalir di pipinya.

“dan satu lagi…terimalah ini..jaga benda ini..dengan baik…dan jangan pernah melupakan kota ini..” ucap Garvin dengan nafas terakhirnya sambil mengulurkan sebuah batu pipih berwarna hitam pekat, dan setelah ia mengakhiri kalimatnya itu ia pun menutup matanya untuk yang terakhir kali.

“GARVIN!!!!!!!” Raung Xavier dengan tangisan yang meledak.

Keadaan kota yang sunyi dan ditutupi oleh aspa perindustrian membuat elegy kesedihan yang ada di sudut kota itu tampak begitu menyedihkan. Dengan beberapa orang yang pingsan dan mayat ketua Geng Cleave yang terbaring, Xavier berlutut dengan kesedihan mendalam dan menetapkan hatinya untuk menepati janjinya kepada Garvin sahabatnya.

Jauh di luar kota Einbroch, di tepi tebing luar kota Eibroch nampak seseorang berdiri di depan sebuah batu. Bunga yang ada di tangannya di letakkan di atas batu itu lalu ia berlutut di samping batu itu.

“Garvin sahabatku, tak butuh waktu lama aku mengikuti ujian itu. 1 bulan setelah kepergian mu, aku resmi menjadi seorang Gunslinger. Mulai saat ini, aku akan menepati janjiku padamu. Hari ini aku harus pergi menuju kerajaan Rune Midgard untuk bertemu seseorang, kabarnya dia tahu bagaimana agar keadaan kota ini tidak penuh dengan polusi seperti sekarang.” Ujar Xavier dengan senyum miris.

“owh iya Garvin, di akademi Gunslinger aku mendapat julukan baru dan akan kupakai selamanya. Mereka memanggilku Xavier Goldfinger, mungkin karena aku telah berhasil menyelesaikan ujian dengan nilai terbaik dan lulus dalam waktu yang sangat singkat.” Jelas Xavier layaknya bercerita dengan orang yang nyata.

“sepertinya sudah saatnya aku harus berangkat menuju Rune Midgard, aku pergi siang ini menggunakan pesawat Kafra. Batu pipih pemberian mu ini adalah koin keberuntungan ku, aku akan menjaganya selalu.” Ujar Xavier yang sudah berdiri dari posisi berlututnya tadi.

Dengan segera ia mengambil sebuah senjata api api berukuran besar yang ia letakkan di samping nya dan kemudian menaruhnya di punggung. Tampak di balik bajunya terdapat dua buah pistol kecil yang berwarna emas dan satunya berwarna hitam kecoklatan.

“sampai jumpa sahabatku…”

Segera ia pun meninggalkan makam sahabatnya itu dan menuju pintu gerbang kota Einbroch. Keadaan tanah yang berpasir membuat jejaknya menghilang ditiup angin bercampur pasir yang mendera perlahan. Dengan tenang ia pergi sambil melemparkan koin keberuntungannya itu.

Selasa, 09 Februari 2010

Ragnarok Novel Part IX

Part IX Conspiration

“….Raja manusia! Aku bukan bermaksud untuk menyerang istana mu atau memulai peperangan yang sudah berhasil dihentikan oleh pendahulu kita. Setelah aku berbincang-bincang dengan ksatria kami yang kalian sebut Orc Lord itu, dia mengatakan bahwa kemarin lusa ada manusia yang membunuh satu keluarga dari kaum kami, dan itulah yang dilihat para penjaga bahwa manusia berjubah hitam keluar mengendap-endap dari rumah itu dan keesokan paginya, ditemukan keluarga itu telah terbantai.” Jelas Orc Hero di tengah ruang istana, suaranya yang besar terlihat menggetarkan kaca-kaca istana.

“Aku tahu bahwa memang peperangan dari bangsa kita sudah berakhir ratusan tahun lalu dan tak ada lagi yang memulai, bahkan kita memulai hidup rukun dan berdampingan. Dan selama aku memerintah negeri ku ini, tak pernah sekalipun aku membiarkan rakyatku melukai bangsa Orc yang perkasa.” Tegas Raja Tristan yang nyaris tak percaya dengan penjelasan dari Orc Hero itu.

“Kali ini siapa yang harus disalahkan atas kejadian ini? Kami bangsa Orc takkan pernah melanggar janji tetua kami!” Terdengar suara sang Orc Hero yang serak menggaung di dalam ruangan yang tenang.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan terlihat Jendral Rai memasuki ruangan diikuti Recca dan Andrew yang tampak masih pucat dan kebingungan dengan apa yang terjadi. Mereka bertiga berjalan dengan tenang ke depan singgasana Raja Tristan, Orc Hero yang tadinya berdiri di tengah ruangan hanya bergeser sedikit dan tidak banyak memberikan jalan bagi Rai, Recca, dan Andrew.

“Lapor Raja, ini adalah 2 orang yang saya ceritakan kemarin.” Ucap Rai yang berhenti di depan singgasana sang Raja, dibelakangnya Recca dan Andrew tampak memandangi sekitarnya. Agak jauh di samping mereka terdapat Orc Hero yang dengan wajah kakunya terdiam melihat 2 orang yang telah berhasil mengalahkan Orc Lord itu.

“terima kasih Jendral, tetaplah disini karena aku masih ingin membicarakan sesuatu.” Ucap Raja Tristan dan dengan sedikit gerakan tangan memerintahkan Jendral Rai untuk berdiri di samping sang Orc Hero.

“nah, jadi ini kah para ksatria yang kudengar berhasil menahan serangan dari para Orc perkasa sebelum kedatangan yang mulia Orc Hero? Perkenalkan nama kalian anak muda!” Terdengar suara Raja Tristan sedikit gembira dibalik kecemasannya tadi.

“saya Recca Syena hunter pengembara dari kota Payon.” Ucap Recca sembari menunduk di hadapan Raja Tristan.

“dan saya Andrew Severus Murdock.” Jelas Andrew yang nampak kaku di depan sang Raja.

“haha, tenanglah kalian anak muda. Aku mengundang kalian disini hanya untuk mengetahui kejadian sebenarnya pada pertempuran kemarin.” Tegas Raja Tristan dengan tawanya yang bijaksana.

Setelah mendengar itu, Recca dan Andrew mulai menceritakan urutan kejadian saat perang itu berlangsung. Ratusan ksatria terluka dalam pertempuran itu, walau bukan pertempuran yang cukup besar namun serangan itu mampu membuat puluhan prajurit Prontera terluka parah.

“…..hingga akhirnya saya merasakan getaran energy dari cincin saya ini, dan ledakan tenaga menjalar kesuluruh tubuh saya. Selang beberapa detik, saya sudah tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, terakhir yang saya lihat bahwa pandangan saya tertutup kegelapan.” Jelas Andrew.

“begitu pula saya, terakhir yang saya rasakan adalah saya menerima pukulan dari Orc Lord dan jatuh tersungkur. Hal berikutnya yang saya tahu adalah saya berada di ruang perawatan istana.” Ucap Recca memberikan tambahan.

“hmm jadi begitu ya, permisi apakah aku bisa melihat cincin itu Andrew dan benda yang katanya bersinar dari badan mu Recca?” Tanya Raja Tristan dengan ekspresi penasaran.

Tanpa khawatir Andrew melepas cincin bermata hitam miliknya, dan Recca pun mengeluarkan kalung yang tersembunyi dibalik bajunya. Mata kalung milik Recca merupakan batu yang warnanya sama dengan batu di cincin Andrew, warna hitam pekat terkesan dominan pada batu itu. Namun jika diperhatikan lebih jelas, batu itu sebenarnya bening dengan inti berwarna hitam pekat seperti sebuah kelereng.

Setelah mengamati benda-benda itu, Raja Tristan mengembalikan kedua benda itu pada pemiliknya masing-masing dengan ekspresi yang semakin penasaran.

“Arrrhh, sebaiknya aku pergi sekarang Raja Manusia! Kami bangsa Orc tak ingin berlama-lama di peradaban manusia yang menjijikan.” Tiba-tiba terdengar suara dari sang Orc Hero yang terlihat cemas setelah memperhatikan cincin dan kalung itu.

“Tapi permasalahan ini belum selesai dengan jelas wahai kepala suku para Orc. Apakah kau ingin membiarkan masalah ini seperti ini saja?” Tanya Raja Tristan sembari berdiri dari singgasananya.

“sudah tak ada yang perlu dibicarakan! Aku hanya ingin jika kau menemukan orang yang membunuh bangsa kami itu, serahkan pada kami. Agar kami yang mengadilinya.” Tegas Orc Hero yang tanpa mengucapkan apa-apa lagi segera pergi meninggalkan ruangan istana itu.

“benar-benar bangsa yang keras dan tegas, ya sudahlah sebaiknya kalian berdua kembali ke ruangan kalian karena ku yakin dayang-dayang istana sudah menyiapkan makanan untuk kalian berdua. Jendral Rai, anda tetaplah disini.” Ucap Raja Tristan dengan senyum miris yang terpancar dari wajahnya.

Mendengar perintah itu, Recca dan Andrew segera melangkah pergi keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Raja Tristan hanya berdua bersama Jendral Rai. Dalam langkahnya menuju keluar ruangan, Recca nampak masih bingung dengan segala hal yang ia alami beberapa hari ini. Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu dengan diiringi suara pintu yang tertutup.

“Rai,maaf sebelumnya tapi sepertinya kau belum bisa pensiun untuk saat ini. Dari keempat Jendral kepercayaan ku dahulu, hanya tinggal kau yang tersisa. Dan Jendral-jendral baru yang sudah disiapkan oleh akademi Prontera belum mampu menunjukkan kemampuan mereka dengan baik.” Jelas Raja Tristan yang saat ini sedang duduk dengan tangan menyangga kepalanya di singgasananya.

“hamba sungguh ingin sekali untuk masih mengabdi bagi kerajaan ini rajaku, namun ada satu hal yang membuat hamba tidak dapat lagi menjadi Jendral. Hamba akui bahwa tidak akan pernah ada orang yang mampu melebihi kemampuan sahabat-sahabat saya terdahulu.” Ucap Rai dengan tenang.

“lalu apakah aku boleh tahu hal apa yang membuatmu tak ingin lagi menjadi Jendral kepercayaanku?” ucap sang Raja dengan sedikit kecewa.

“hamba hanya ingin menjaga istri tercinta hamba…” ucap Rai dengan menundukkan wajahnya yang terlihat sedih ketika mengucapkan kalimat itu.

“hhh…tapi apakah kebahagiaan rakyat tidak jauh lebih penting dari itu??” Tanya Raja Tristan bersikeras.

“waktu yang akan hamba lalui bersama istri hamba tidak banyak lagi…” ujar Rai dengan wajah yang makin menunduk menahan air matanya.

“hhhh…..baiklah sepertinya aku memang sudah tak mampu menahan mu lagi. Kebahagiaan untuk orang yang kita cintai adalah satu-satunya hal yang mampu membuat hidup kita tenang,mungkin…..” ucap Raja Tristan dengan pasrah.

“terima kasih yang mulia, hamba percaya jendral-jendral sekarang akan jauh lebih baik dibandingkan hamba. Hamba permisi dahulu…” ucap Rai sembari berlutut dihadapan sang Raja.

“semoga doa mu didengar oleh Valkyrie, baiklah jika kau ingin pergi. Berjanjilah, kau akan selalu berjalan pada jalur yang benar dan memang itu yang terbaik menurut hatimu.” Ujar Raja Tristan.

“baik rajaku…” setelah selesai mengucapkan kalimat itu, Rai berusung mundur kemudian meninggalkan ruangan istana dan membiarkan Raja Tristan duduk termenung di singgasananya sendirian.

Ketika Rai telah meninggalkan ruangan dan membuat keadaan ruangan telah sepi hanya tertinggal Raja Tristan termenung di singgasananya, tiba-tiba ia teringat pada batu yang dimiliki oleh Andrew dan Recca. Ia merasa bahwa batu-batu itu adalah pecahan Mother’s Nightmare yang konon telah terpecah dari kondisi aslinya menjadi beberapa bagian.

“tapi apa kaitan mereka dengan batu itu, pecahan yang telah lama hilang dan kabarnya sudah melebur kedalam perut bumi di tanah Midgard ini..”

Di ruang makan istana terlihat cukup sepi dan hanya ada dua orang yang sedang duduk menikmati makanan yang begitu banyak disajikan di hadapan mereka. Dengan perlahan mereka menikmati suasana makan di ruang itu dengan sedikit bercengkerama.

“Kenapa ya Raja Tristan hanya merawat kita, bukankah para prajurit lainnya jauh lebih penting dari kita berdua..” Tanya Recca yang sedang menikmati sepotong daging panggang di hadapannya.

“benar juga, mungkin karena kita satu-satunya yang bertahan setelah pertempuran dengan para Orc itu. Tapi bukankah seharusnya Raja lebih baik mengurus para prajurit dan orang-orang yang terluka itu.” Ucap Andrew dengan wajah penasaran.

“Mungkin memang aneh, tapi para prajurit itu sudah aku rawat dan petualang-petualang lainnya juga sudah aku kirim para penyembuh untuk mengobati mereka.” Tiba-tiba terdengar suara Raja Tristan dari belakang mereka.

“maaf paduka, kami tidak menyangka anda ada disana.” Jawab Recca yang terlihat sedikit malu dan sungkan telah membicarakan Raja Tristan.

“maafkan kami paduka, sungguh kami tidak bermaksud untuk menghina anda.” Tambah Andrew yang juga terlihat sedikit gugup.

“tidak apa-apa, tenang saja. Aku tahu kalian kebingungan kenapa hanya kalian yang mungkin aku perlakukan sedikit istimewa…” ucap Raja Tristan sembari berjalan menuju kursi di dekat Recca dan Andrew yang kemudian duduk dan mengambil secangkir anggur merah di sampingnya.

“aku melihat bahwa ada sesuatu dari kalian yang membuat ku merasa bahwa kalian adalah orang-orang yang aku butuhkan…” lanjut Raja Tristan setelah menaruh gelas berisi anggur yang baru saja ia minum.

“maksud Raja bagaimana? Kami? Dibutuhkan untuk apa?” Tanya Andrew dengan penasaran.

“saat ini entah siapa orang yang mampu kupercaya, entah siapa orang yang mampu membantu ku menyelesaikan ini semua. Namun setelah melihat kemampuan kalian, aku berharap bisa meminta bantuan dari kalian.” Jelas Raja Tristan.

“kebetulan sekali, apapun akan kulakukan asalkan itu menghasilkan uang! Dan aku yakin Raja pasti membayarku dengan emas yang cukup banyak kan? Haha” ujar Recca yang menjadi bersemangat dengan pembicaraan sang Raja.

“aku tidak ingin berurusan dengan masalah istana, aku takkan membantu apapun itu.” Sela Andrew yang wajahnya tampak begitu datar.

“aku, ingin kalian mendapatkan Mother’s Nightmare.” Ucap sang Raja tanpa menjelaskan lebih pasti.

“Apa? Mother’s Nightmare? Kau gila! Benda itu sudah tidak ada! Benda terkutuk itu sudah hancur dari jaman perang besar dengan para iblis dahulu!” ucap Andrew tiba-tiba dengan ekspresi cemas dan tidak percaya.

“anak muda, memang benar benda itu sudah hancur sejak jaman dahulu karena konon siap yang memilikinya mampu menyatu dengan para dewa perang dan juga bisa menjadi alat untuk menghancurkan negeri ini. Aku ingin kalian menemukan benda ini, agar kita bisa membatalkan kebangkitan Raja Kegelapan.” Jelas Raja Tristan.

“Aku tak peduli apapun itu dan bagaimana, yang terpenting aku dapatkan benda itu dan aku mendapatkan imbalan yang pantas!” ucap Recca yang semakin bersemangat dan tidak peduli dengan penjelasan sang Raja.

“Raja Kegelapan...baiklah aku ikut.” Ucap Andrew dengan ekpresi penuh amarah dan sorotan mata yang begitu tajam terlihat di wajahnya.

“bagus lah jika begitu, yang aku dengar bahwa di kota Morroc ada seseorang yang tahu betul mengenai batu itu. Sebaiknya besok kalian segera memulai perjalanan menuju kota Morroc. Aku akan menyuruh para pelayan untuk menyiapkan perbekalan untuk kalian.” Jelas Raja Tristan dengan senyum terpancar dari wajahnya.

Setelah pembicaraan di ruang makan itu selesai, Raja Tristan meminta mereka berdua untuk beristirahat di istana. Dan keadaan istana yang biasanya tenang, sedikit tampak ramai dengan keadaan oara pelayan yang mondar mandir keliling istana menyiapkan perlengkapan untuk Recca dan Andrew.

Tanpa pernah mereka tahu takdir apa yang ada dihadapan mereka, mereka terlelap menikmati kenyamanan istana.

Ragnarok Novel Part VIII

Part VIII Mother’s Nightmare

“hhh….hh….hhh…!! Apa itu tadi!” ucap Raja Tristan III yang terbangun dari mimpinya di ruang tidur istana dengan terengah engah.

“tidak mungkin ia bangkit lagi,hhh…..! Para jendral terbaik ku sudah tiada dalam pertempuran terdahulu, walau kabar terakhir yang aku dapat bahwa ritual kebangkitan itu berhasil dihentikan. Tak mungkin ia bangkit lagi. Hhhh….wahai Dewi Valkyrie! Lindungilah Rune Midgard ini….” Ucap Raja Tristan III yang nampak kembali tidur dengan perasaan cemas.

Cahaya matahari menerobos masuk di sela-sela tirai yang menutupi kaca ruang tidur istana. Seorang permaisuri nampak membangunkan Raja Tristan yang sedang tertidur dengan tenang. Permaisuri ini begitu cantik dan nampak masih terlihat muda.

“Raja, bangunlah! Ada pesan dari Elder Wizard kota Geffen, sebaiknya raja segera membacanya.” Ucap sang permaisuri dengan tenang.

“hmm…aku akan segera ke ruang tengah.” Ujar Raja Tristan yang perlahan bangun dari tidurnya dan bergegas membersihkan tubuhnya.

“saya akan menunggu di ruang makan…” ujar sang Permaisuri yang kemudian keluar dari ruang tidur dengan menyeret gaun putihnya yang berkilauan dengan permata.

Selang beberapa lama Raja Tristan turun dari ruang tidurnya dengan pakaian raja dan menuju ruang tengah istana, disana nampak seorang Wizard yang sedan berdiri dengan tenang menghadap singgasana raja yang kosong. Ketika Raja Tristan turun dan menuju singgasananya, Wizard itu tampak berlutut dengan menundukkan kepalanya.

“Bangunlah Wizard dari Geffen!” Ucap Raja Tristan yang sudah duduk di singgasananya.

“Saya Brant Ebert membawa berita dari Elder Wizard, bahwa beberapa hari yang lalu kota Geffen telah diserang oleh serombongan Zombie Prisoner yang berasal dari Glast Heim.” Ucap Brant yang terlihat sudah bangkit dari sujudnya.

“tidak mungkin, seharusnya para iblis itu tidak akan bangkit ranpa kekuatan kegelapan dari Raja Kegelapan.” Ucap Raja Tristan yang nampak semakin cemas dan terlihat sekali raut kekhawatirannya.

“Elder Wizard kami sudah menghubungi para Sage, yang ada di kota langit Juno. Menurut ramalan Great Sage Zora, kebangkitan iblis-iblis terkuat akan segera dimulai dan Ragnarok akan terjadi. Hanya para ksatria pilihan yang mampu menyelamatkan penduduk di seluruh Rune Midgard.” Terang Brant dengan tenang.

“Lalu, bagaimana aku bisa mengetahui para ksatria pilihan itu diantara sekian banyak penduduk Rune Midgard??” Tanya Raja Tristan dengan khawatir.

“menurut Great Sage Zora, para ksatria itu berhubungan dengan pecahan Mother’s Nighmare. Kami tidak tahu bagaimana pastinya, tapi beliau hanya memberitahukan itu saja.” Ucap sang wizard.

Wajah Raja Tristan seketika berubah cemas dan begitu pucat, kekhawatirannya terhadap kebangkitan sang Raja iblis membuat tubuhnya lemas dan membebani pikirannya.

“Wahai Valkyrie, dosa apa yang telah kami perbuat hingga kau turunkan cobaan yang begitu besar ini.” Ucap Raja Tristan dengan menunduk dan menutupi wajahnya menggunakan tangan.

Suasana saat ini menjadi hening, yang kemudian sang wizard berpamitan kepada Raja untuk kembali ke Geffen. Kondisi yang kurang sehat pada tubuh Raja Tristan membuatnya nampak begitu pucat dengan tambahan informasi dari wizard itu.

Di luar kastil Prontera, nampak beberapa orang terlihat duduk dengan nyaman di bangku-bangku taman kota menikmati siang hari yang cukup hangat karena sinar matahari tertutup beberapa awan putih yang berark diatas langit. Beberapa grup novice berkeliling kesana kemari mencari benda-benda yang mereka butuhkan untuk menjadi profesi yang mereka inginkan.

Tiba-tiba seruan terompet istana yang begitu nyaring terdengar. Terompet itu tidak pernah dibunyikan bila tidak ada bahaya yang datang, keadaan kota tampak menjadi kacau dengan seruan terompet itu. Beberapa petualang yang sedang beristirahat tampak bersiap-siap membantu pasukan istana bila memang terjadi serangan. Beberapa Merchant menutup lapaknya dan satu persatu mulai bersembunyi, namun para Blacksmith nampak ikut mempersiapkan senjatanya untuk ikut bertempur.

Rakyatku! Kota Prontera telah diserang oleh beberapa monster dan iblis dari arah utara, Aku Raja Tristan III memohon bantuan dari para petualang yang ada di kota ku tercinta ini untuk ikut membantu pasukan Prontera.’ Ucap Raja Tristan III menggunakan kekuatan telepatis melalui bantuan wizard istana.

Ucapan raja Tristan itu membuat para petualang yang berada di seluruh penjuru kota Prontera bangkit dan langsung menuju bagian utara kota Prontera. Diantara kerumunan para petualang yang bergegas menuju utara kota, nampak Recca yang juga berlari menuju gerbang utara. Di tengah jalan ia melihat Andrew yang sedang mengambil air suci disamping Gereja Prontera.

“Andrew! Prontera diserang! Ayo kita kalahkan para iblis itu!” teriak Recca.

“owh kau Hunter semalam, iya aku tahu. Aku sedang mempersiapkan beberapa hal, tunggu sebentar.” Ucap Andrew dengan tenang dan nampak sedang mengambil beberapa batu mulia berwarna biru.

Lalu kedua langsung berlari menuju bagian utara kota. Jalan-jalan kota nampak sepi karena sebagian penduduk kota membantu menghalau serangan para monster. Ketika Andrew dan Recca mencapai bagian utara kota, nampak disana berbagai monster menyerang para prajurit dan beberapa petualang. Para Argiope dan Argos berusaha menembus kastil kota dengan liar, jauh dibelakang para monster hutan itu nampak barisan prajurit yang begitu perkasa dan tidak terlihat seperti manusia. Wajah mereka begitu mengerikan, tubuh mereka sangat besar dan kulit mereka berwarna hijau. Taring yang begitu tajam terlihat ketika mereka menyeringai. Sebarisan penuh pasukan Orc datang dengan gagahnya ikut menyerang kastil Prontera. Dibelakang para Orc Warrior itu terlihat sederetan Orc Archer yang sedang bersiap-siap menembakkan panah apinya menuju para prajurit Prontera. Tampak para Orc Archer itu melindungi seorang jendral besar, Orc yang jauh lebih besar dibanding Orc lainnya. Keperkasaan Orc itu sungguh luar biasa, para petualang menyebut orc itu adalah Orc Lord.

“Andrew! Keadaan begitu gawat, bagaimana mungkin para Orc itu memulai perang antar manusia dan Orc lagi setelah sekian lama berdamai!” Jelas Recca yang nampak tidak percaya dengan keadaan yang ia lihat.

“Recca, sebaiknya kita langsung membantu para prajurit dan petualang-petualang yang ada di garis depan.” Ucap Andrew yang sedang mengobati seorang prajurit yang terluka terkena serangan dari para Mantis.

“baiklah, TANPA BANYAK BICARA AKAN KUBANTAI KALIAN PARA MONSTER BUSUK!!” teriak Recca yang menerjang beberapa Mantis dan langsung menggunakan Arrow Shower.

Beberapa Blacksmith tampak sibuk membantai para Argiope dan Argos, namun diantara kesibukan itu mereka juga terlihat lebih sibuk memunguti benda-benda langka yang terjatuh dari para monster itu. Keadaan terlihat semakin kacau ketika ratusan panah menyerbu para petualang di garis depan pertempuran. Keadaan kastil dibelakang mereka tampak sudah mulai retak dengan gempuran langsung dari para monster yang sekaligus mendesak para prajurit dan petualang untuk sedikit demi sedikit mundur kedepan gerbang kastil.

“PARA PRAJURIT DAN PARA PETUALANG, TOLONG DENGARKAN PERINTAHKU! PARA PETUALANG MENYEBARLAH KE BAGIAN KANAN DAN KIRI, BIAR PARA PRAJURIT KU YANG MENAHAN SERANGAN DARI TENGAH! KALIAN PARA PETUALANG SERBULAH MEREKA DARI SAMPING DAN HANCURKAN MEREKA DARI SAMPING!” Teriak seorang Defender yang dengan gagahnya mengendarai seekor Grand Peco-Peco, wajahnya tampak tua dan rambutnya pun terlihat sudah mulai memutih.

“aku tidak yakin para prajurit bisa menahan serangan beruntun antara para monster dan Orc Warrior itu Jendral Rai.” Ucap seorang panglima perang yang terlihat begitu cemas di depan Jendral Rai Lightbringer.

“percayalah padaku, kita harus bisa menahan para monster itu sekuat tenaga kita.” Ucap Rai yang kemudian langsung menuju sederetan prajurit Prontera dibagian depan dan membantu mereka menahan serangan para monster.

Tanpa ada perintah lagi, semua petualang langsung menyebar ke bagian kanan dan kiri kastil lalu menyerbu para rombongan Orc Warrior dengan frontal. Terlihat Recca bersama para hunter lainnya bersembunyi diatas pepohonan dan menyerang para Orc Archer yang mengelilingi Orc Lord. Beberapa Assasin membantai para Orc Warrior dengan kemampuan menghilang mereka.

Ketika para monster itu dan serombongan Orc Warrior berhasil mereka atasi dan nampak mereka berhasil mendorong para monster itu mundur. Orc Lord yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan keadaan didepannya, langsung menyerbu para Assasin. Dengan mudahnya ia membantai Assasin itu, dan gerakan yang sangat cepat Orc Lord itu menuju bagian tengah rombongan petualang dan membunuh para petualang itu. Dengan derap langkah Grand Peco-Peco yang nampak berat, Jendral Rai maju kedepan untuk menghadapi Orc Lord itu. Diantara mayat para petualang dan prajurit Prontera, Rai menghadapi Orc Lord itu sendirian. Sabetan pedang yang dilancarkan oleh Rai nampak tidak mampu melukai kulit tebal Orc Lord. Beberapa Orc Warrior yang masih tersisa pun maju menuju Rai dan mengerubungi Rai tanpa ada celah untuk lari.

“GRAND CROSS!!” teriak Rai yang dengan seketika sebuah cahaya berbentuk salib berukuran sangat besar muncul dari tanah, dan cahaya itu menyerang para Orc dan seketika membunuh mereka. Namun Orc Lord yang juga terkena serangan Grand Cross itu nampak hanya terkena luka ringan, efek samping yang diterima oleh Rai cukup membuat keadaan tubuhnya lemas.

“HEAL!” teriak Andrew dari belakang Rai, tubuh Andrew nampak penuh luka dengan pakaiannya yang sudah robek disana sini.

“terima kasih Priest muda.” Ketika Rai selesai mengucapkan itu, ia langsung menyerang Orc Lord itu kembali.

Dengan gerakan yang luar biasa cepat Orc Lord itu menyerang Rai, teriakan penuh amarah terdengar mulut Orc Lord yang menampakkan sederetan gigi taringnya yang begitu tajam. Bau berbagai mayat busuk terasa ketiak ia berteriak, kaum Orc adalah kaum kanibal yang akan memakan apa saja termasuk manusia. Namun mereka tidak pernah melukai bahkan memakan kaumnya sendiri, karena kebudayaan Orc begitu kental dengan penghargaan satu sama lain.

“Improve Concentration!” Ucap Recca yang masih bertahan di atas pohon walau nampak di bagian perut sebelah kirinya terluka cukup dalam karena terkena anak panah setelah berduel dengan serombongan Orc Archer tadi.

Dengan bergegas Recca melompat turun dari atas pohon dan berlari menuju Orc Lord yang berada di depan jembatan penghubung wilayah utara dengan kastil Prontera.

“Double Strafe!!” dua buah anak panah melesat dengan cepat ketika Recca melepaskan anak panah itu sembari berlari. Anak panah itu berhasil menembus punggung Orc Lord yang membuatnya nampak tersentak.

Kesempatan ini tidak dibuang percuma oleh Rai, ia langsung menghantam Orc Lord itu dengan pedangnya. Rangkaian serangan dipadu dengan sihir pendukung dari Andrew nampak berhasil mendesak Orc Lord tersebut dan membuatnya tak berdaya. Namun ketahanan tubuh Orc Lord yang sudah terlatih itu membuatnya mampu bangkit dan bahkan membuatnya mampu menyerang lebih brutal dari sebelumnya.

Pukulan Orc Lord itu menghempaskan tubuh Recca yang memiliki pertahanan yang begitu lemah, Rai yang sempat mampu menahan rangkaian serangan Orc Lord itu dengan bantuan dari Andrew pun akhirnya tak mampu lagi menahannya dan ia pun jatuh tersungkur dengan keadaan Grand Peco-Peconya sudah tergeletak tak bedaya diatas tanah.

Keadaan terdesak ini hanya menyisakan seorang Orc Lord yang berlumuran darah dan seorang Priest muda tanpa memiliki kemampuan bertarung sama sekali, di sekelilingnya tergeletak ratusan prajurit, petualang, dan monster-monster yang sebagian sudah mati dan beberapa masih hidup dengan luka yang membuat meraka tak mampu lagi berdiri. Recca yang terkena pukulan dan tersungkur di tanah itu pun tak mampu lagi berdiri, Jendral besar Rai Lightbringer nampak terluka parah, baju besinya rusak dan terlihat bahwa beberapa rusuk bagian dalamnya patah.

“Heh, sekarang hanya tinggal kau dan aku Orc jelek!” ucap Andrew dengan tawa sinis yang terlihat ia tidak akan pernah takut mati.

“RRWWAAARRRWW!!!!” Teriak Orc Lord itu

“dasar Orc bau! Aku takkan pernah takut mati, walau aku sudah tidak memiliki lagi kekuatan untuk bertahan!” ucap Andrew dengan nafas yang tak beraturan.

Dengan seringai tajam yang memperlihatkan sederetan gigi taring yang begitu tajam itu, sang Orc Lord melancarkan pukulan ke arah Andrew. Tiba-tiba cincin bermata hitam yang ada di tangan kanan Andrew nampak mengeluarkan cahaya merah kelam yang menggerakkan tangan kanan Andrew secara spontan. Pukulan Orc Lord yang belum sempat mengenai tubuh Andrew itu berhasil ditahan dengan tangan kosong oleh Andrew. Sorotan mata Andrew sudah tidak lagi seperti biasanya, pupil matanya berwarna hitam kelam dan nampak ia seperti tidak sadar.

Ketika cincin milik Andrew bersinar, di kejauhan sebuah sinar yang sama muncul dari tubuh Recca. Sebuah cahaya kecil yang membuat tubuh Recca bangkit walau kepalanya masih terlihat lunglai dan matanya tertutup. Namun tiba-tiba matanya terbuka dengan menampakkan sorotan mata yang begitu tajam dan sorotan matanya sama dengan sorotan mata Andrew.

“Arrow Repel!” ucap Recca sembari melepaskan sebuah anak panah dengan tenang.

Tubuh Orc Lord yang terkena panah tersebut seketika terpental menjauh dari Andrew, Recca mendekati Andrew dengan pandangan yang sama dan secara bersamaan mereka menatap Orc Lord yang tampak sangat marah.

“Blessing!” “Increase Agi!” “Impositio Manus!” tiga mantra sekaligus diberikan kepada Recca oleh Andrew tanpa terlihat ia kelelahan.

Dengan tambahan kekuatan yang diberikan oleh Andrew, Recca melesat kedepan menyerang Orc Lord itu dengan cepat dan tenang. Ketika ia tepat berada didepan Orc Lord itu, Recca mengarahkan busurnya kearah kepala sang Orc Lord dengan dua buah anak panah yang siap ditembakkan.

“BERHENTI KALIAN!!!” terdengar suara yang begitu keras dan menggelegar dari arah hutan, suaranya serak bagaikan raksasa yang bangun dari tidurnya.

Dari arah hutan tampak beberapa pasukan Orc muncul, Orc kali ini sedikit berbeda dengan Orc sebelumnya. Pasukan Orc ini memiliki tubuh yang sedikit lebih besar dari pasukan Orc sebelumnya, warna kulitnya pun tidak berwarna hijau, namun berwarna biru pucat. Dibelakang para Orc itu, terlihat seorang Orc yang bertubuh sama besarnya dengan Orc Lord itu. Orc yang satu ini memiliki baju besi berwarna emas dengan perisai emas besar ditangannya, sebuah pelindung kepala dengan kesan etnik Orc yang begitu kental dengan warna emas terpasang dengan gagah di kepalanya.

Jendral Rai yang sedari tadi tegeletak namun masih tersadar mengamati segala yang terjadi dengan Recca dan Andrew. Ketika pasukan Orc yang baru saja datang mulai mendekati kastil, Rai bangkit dengan susah payah dan berusaha menghalau pasukan Orc itu.

“Manusia! Jangan kau kotori pedangmu dengan darah kami, dan kami juga takkan mengotori senjata kami dengan darah kalian! Aku Orc Hero datang dengan pasukan High Orc ku tidak untuk mencari perang dengan kalian para manusia!” Ucap Orc Hero itu dengan tegas dan suara yang menggetarkan.

“a..aa.apa yang kau inginkan hah? Kalian yang memulai penyerangan, dan aku harus percaya dengan kata-katamu? Bisa saja kau bersikap baik, lalu kau dengan mudah bisa mendekati raja kami lalu membunuhnya! Cih! Itu kan yang kalian inginkan? Hah…h…” ucap Rai dengan menahan rasa sakit pada dadanya.

“JANGAN LANCANG KAU KSATRIA! Aku adalah pemimpin para orc, kami memang bangsa yang tergila-gila dengan peperangan! Tapi kami sudah memiliki peradaban!” ucap sang Orc Hero

Andrew dan Recca yang berada di belakang Rai dan Orc Hero itu beberapa saat hanya memperhatikan percakapan mereka tanpa terlihat mengerti apa yang dibicarakan. Orc Lord yang melihat kesempatan ini segera memukul mundur Recca hingga Recca tersungkur dibawah kaki Andrew. Recca segera bangkit dan melepaskan anak panah yang sedari tadi ia siapkan.

Dengan gesit, Orc Hero yang berada di depan Rai langsung melesat kesamping menuju sang Orc Lord dan seketika itu juga menangkis anak panah yang dilesatkan oleh Recca.

“aku bilang berhenti kalian semua!” ucap sang Orc Hero sembari melindungi Orc Lord dengan perisainya.

Tiba-tiba cahaya yang dipancarkan dari cincin milik Andrew dan dari benda di balik baju Recca mulai meredup dan menghilang. Ketika cahaya itu sepenuhnya hilang, mereka berdua menjadi lemas dan tersungkur di atas tanah tak sadarkan diri.

Ragnarok Novel Part VII

Part VII Faith

Hari ini kota Prontera tampak berjalan seperti biasa dengan keramaian yang selalu ada dan tak pernah mati rasanya. Jauh di sebelah timur laut kota Prontera, di gereja utama kota ini, nampak sedikit ramai di banding hari biasanya. Hari ini adalah hari pembaptisan para Acolyte yang sudah layak untuk menjadi Priest, orang yang memiliki tingkat kepercayaan yang begitu tinggi pada Tuhan.

Di dalam gereja nampak 5 orang acolyte yang sedang menghadap Bapa Pendeta Utama gereja Prontera, 4 orangnya terlihat acolyte yang begitu patuh dan sopan dengan bible yang ada di tangan masing-masing dan begitu antusias dengan ceramah dari sang Pendeta. Namun, 1 orang acolyte lagi duduk di kursi paling belakang dengan wajah yang malas dan sebuah Mace berada disampingnya, wajahnya tak peduli dengan semua hal yang dibicarakan oleh Pendeta utama. Rambut coklatnya terurai dengan poni samping yang hampir menutup mata kirinya.

“…selama kita percaya pada Tuhan, maka tidak akan pernah ada iblis yang dapat mempengaruhi kita. Nah, anak-anak ku sekarang majulah satu persatu dan akan aku mengangkat kalian menjadi Priest.” Ucap sang bapa Pendeta.

Satu persatu dari acolyte itu maju dengan tertib dan secara resmi menjadi seorang Priest. Pada giliran acolyte berambut coklat itu, dia maju kedepan dengan acuh dan melaksanakan ritual ini hanya seperti menjalani pemeriksaan kesehatan.

“Dengan ini, sekarang kau adalah Priest anakku. Dan nama mu adalah Andrew Severus Murdock.” Ucap sang pendeta kepada acolyte itu.

“apakah dengan aku menjadi seorang Priest, aku dapat membunuh para iblis yang telah membuat kita hidup sengsara ini?” tany Andrew dengan tiba-tiba.

“anakku, kita diberi kekuatan suci bukan untuk mengalahkan, tapi untuk melindungi dan menjaga. Jadi jangan pernah menggunakan kekuatan mu untuk hal yang tidak berguna dan merugikan orang lain.” Ucap sang pendeta yang nampak terkejut dengan pertanyaan dari Andrew.

Tanpa bertanya lagi Andrew menerima pakaian dan bible yang diberikan oleh sang pendeta sebagai tanda bahwa dirinya telah menjadi Priest. Dia pun memakai pakaiannya dan bergegas keluar dari gereja tanpa memedulikan teman-temannya yang lain.

Di luar gereja, ia segera menuju bagian belakang gereja menuju tempat pemakaman umum yang ada di sana. Keadaan begitu sepi dan tidak ada satu orang pun yang berada disana, tanpa pikir panjang Andrew langsung meuju bagian paling belakang dari pemakaman itu. Ia pun lalu duduk disamping sebuah batu nisan yang bertuliskan Albern Murdock.

“ayah, seperti keinginan ibu aku telah menjadi seorang Priest. Aku hanya ingin agar Tuhan mau memasukkan ayah pada surge milik-NYA.” Ucap Andrew yang tampak tegar. Dia pun diam sejenak untuk menenangkan pikirannya.

“semenjak kematian ayah 20 tahun yang lalu, ibu pergi entah kemana. Berita yang aku dengar bahwa ia dibawa oleh para iblis itu, tapi aku tak pernah tahu apa yang mereka inginkan dari ibu.” Ucap Andrew yang saat ini sedang mengelap batu nisan milik ayahnya.

Setelah cukup lama duduk disamping batu nisan itu sambil membersihkannya dari rumput-rumput liar. Andrew melangkahkan kakinya menuju tengah kota, wajahnya tampak murung dan tegas namun sorotan mata tajamnya terpancar begitu tulus bagai bayi yang baru saja dilahirkan. Pakaian Priest dan bible yang ada di tangan kanannya menunjukkan betapa suci dirinya setelah diangkat menjadi seorang Priest.

Di suatu hutan yang ada di selatan kota Payon, terlihat seorang Hunter yang terlihat sedang berjalan dengan santainya. Tubuhnya terlihat cukup terlatih dan cekatan, rambutnya berwarna merah cerah sangat kontras dengan baju putih berbaur warna coklat yang menjadi ciri khas seorang Hunter. Busur yang cukup besar dengan sebuah tabung anak panah menempel di punggungnya.

Tiba-tiba Hunter itu menghentikan langkahnya di tanah kosong di antara pepohonan yang ada di tengah hutan.

“Kau, keluarlah! Aku perhatikan semenjak keluar dari Payon tadi kau selalu mengikutiku, apa maumu?” ucap Hunter itu dengan suara yang cukup lantang tanpa ada seorang pun yang terlihat disekitarnya.

Selang beberapa detik setelah ucapan sang Hunter, seorang Assasin melompat turun dari salah satu pohon. Wajahnya tertutup Assasin Mask sehingga tidak bisa dipastikan bagaimana wajahnya, di atas kepalanya terlihat sebuah Evil Wing terpasang.

“memang terbukti kemampuan mu jauh melebihi Hunter-hunter lain yang pernah menjadi targetku. Tapi dimana-mana Hunter itu semuanya sama saja! Kalian itu, LEMAH!!!” setelah mengucapkan kalimat itu, sang Assasin maju menyerang si Hunter dengan frontal.

Dengan cepat Hunter itu melompat ke belakang menghindari serangan dari sang Assasin, dan bersiap2 menembak dengan busurnya.

“sebelum kau kubunuh, sebaiknya sebutkan nama mu Assasin muda dan siapa yang mengirimmu!” Ucap sang Hunter yang sekarang tampak serius.

“Seorang pembunuh bayaran sepertiku tak perlu memperkenalkan siapa aku dan siapa yang menyewaku!” ujar sang Assasin yang diikuti dengan melemparkan sebuah batu ke arah sang Hunter “Throw Stone!”

Batu kecil itu dengan mudah dihindari oleh sang Hunter hanya dengan melompat kesamping, namun Assasin yang ada di depannya sudah menghilang dan keadaan tampak sepi kembali. Tampak curiga dengan keadaan di sekitarnya, sang Hunter bersiul memanggil Elang miliknya. Ketika elang itu ada datang, ia pun segera memerintahkan elang tersebut untuk melacak keberadaan Assasin itu.

“Detect!!” teriak sang Hunter, namun elang itu tidak menemukan tanda-tanda keberadaan sang Assasin. Tiba2 dari belakang sang Assasin menyerang dengan kecepatan katarnya, dan Hunter itu pun terluka cukup parah yang mengakibatkan dia tidak bisa bergerak dengan cepat.

“sebelum aku membunuhmu, beritahu namamu! Aku hanya diperintah tanpa diberitahu namamu, tapi karena kemampuanmu yang cukup mengagumkan, aku jadi ingin tahu siapa namamu.” Ujar sang Assasin yang berjalan mendekati sang Hunter dengan perlahan.

“kau ingin tahu namaku?” Tanya sang Hunter yang berusaha berdiri dengan luka di punggungnya.

“Arrow Shower!!” teriak sang Hunter yang melepaskan ratusan panah api ke langit.

Tak berapa lama, ratusan anak panah api menghujani Assasin itu yang membuatnya menghindari ratusan anak panah itu dengan susah payah. Tapi dengan kecepatan yang luar biasa, tak satupun anak panah mengenainya.

Barisan api yang ditimbulkan oleh anak panah itu membuat suasanya menjadi panas, dengan gerakan cepat sang Assasin melompat keatas dan berusaha menyerang dari atas. Saat ia melompat, ia melihat keadaan tanah dibawahnya yang penuh dengan anak panah dari sang Hunter. Anak-anak panah itu membentuk sebuah tulisan ‘Recca’.

“Double Strafe!!” teriak sang Hunter diiringi dengan 2 anak panah sekaligus melesat kearah sang Assasin yang sedang lengah.

Dua anak panah sekaligus menancap di dada sang Assasin, yang membuatnya tersentak dan terjatuh. Dengan menahan luka yang ada di punggungnya, sang Hunter mendekati Assasin itu.

“Aku Recca Syena takkan pernah membunuh orang-orang seperti kau, karena kalian hanya ditugaskan untuk membunuhku. Nah sekarang, siapa yang menyewa jasa mu ini?” ucap Recca yang sedikit menahan nyeri dari luka di punggungnya.

“luar biasa, aku kalah….di tangan buruan….ku sen….diri….” belum sempat ia berkata lebih banyak, assassin itu menusukkan sebuah pisau kecil berlumuran racun ke tubuhnya sendiri.

“cih, setiap hari makin banyak saja orang yang memburu ku tanpa alas an yang jelas.” Ucap Recca yang saat ini sedang menyembuhkan luka di punggungnya dengan susah payah.

“nah, sudah mendingan. Sebaiknya aku segera ke Prontera, sebelum hari menjadi gelap.” Ujar Recca yang kali ini melanjutkan perjalanan dengan diiringi elang peliharaannya yang terbang mondar mandir di atas.

Suasana malam kota Prontera memang terasa nyaman dan menyenangkan, dari kesunyian di beberapa sudut kota tampak 1 tempat yang semakin ramai di malam yang semakin beranjak ini. Bar kota Prontera, dari waktu ke waktu tak pernah sepi dari pengunjung. Entah para petualang yang sekedar mampir di kota Prontera untuk bermalam, atau mencari pekerjaan, dan dari warga Prontera sendiri pun tak enggan untuk bersenang-senang bersama setelah disibukkan oleh kepenatan seharian ini.

Di depan Bar tampak Andrew yang sedang memegang sebuah gelas terisi penuh dengan bir, kejanggalan ini terlihat begitu mencolok karena jarang sekali ada seorang Priest berada dalam bar. Tapi hal-hal seperti ini tak pernah menjadi masalah bagi orang-orang yang sedang berpesta malam ini.

“Wah, jarang sekali bahkan hampir tidak pernah ada Priest yang datang ke Bar ini,haha!” Ucap sang bartender yang sedang berada di balik meja bar menyiapkan minuman bagi para pelanggannya.

“Kadang seorang manusia juga harus menikmati kehidupannya dan jangan dihabiskan hanya untuk berdoa.” Ucap Andrew dengan wajah tenang sambil menenggak minumannya.

“haha,aku suka semangat anak muda jaman sekarang! Ini aku traktir kau satu gelas lagi!” tawa sang bartender sambil memberikan segelas bir berukuran besar kepada Andrew yang menerimanya dengan tenang.

Tiba-tiba pintu bar terbuka dan seorang Hunter terlihat memasuki ruangan bar dengan keadaan yg cukup buruk jika dilihat dari pakaiannya, namun dia tampak masih segar dan tenang walau di punggungnya nampak balutan kain yg sudah menghitam karena darah yg mengering. Tanpa banyak bicara, ia segera duduk di samping sang Priest di depan meja bar.

“masih adakah kamar kosong untuk ku bermalam disini?” Tanya Recca yang nampak kelelahan.

“owh,untunglah aku masih menyisakan 1 kamar kosong. Ini kuncinya, beristirahatlah anak muda. Nampaknya kau terluka cukup parah, kau yakin kau tidak apa2?” Tanya bartender dengan cemas, keriput diwajahnya yg sudah tua makin terlihat saat seperti ini. Rambut putihnya terlihat begitu terang dibawah sinar lampu bar

“tidak apa2 pak, ini hanya luka ringan. Maklum, semenjak si Raja kegelapan itu makin kuat hewan-hewan di hutan jadi semakin ganas haha.” Ucap Recca yang tampak ceria namun kelelahan dan pucat karena darahnya yg terkuras.

“hmm tuan Hunter, nampaknya dari yang kulihat kau kehilangan darah yg cukup banyak dan luka di punggung mu itu sepertinya ada yg aneh.” Ucap Andrew yg sedari tadi nampak heran dengan kondisi Hunter disampingnya ini.

“owh, memangnya apa yg aneh dengan luka ini?” Tanya Recca yg mengalihkan pandangannya dari bartender tadi kearah Priest disampingya.

“oh iya, maaf sudah lancang,perkenalkan aku Andrew Murdock. Aku lihat darah di punggung mu itu terlihat aneh dari darah biasanya. Boleh kulihat luka mu sebentar?” Tanya Andrew yang nampak penasaran dengan luka sang Hunter.

“aku Recca Syena, boleh saja. Lagi pula aku tidak merasakan sakit yang aneh, jadi kupikir ini baik-baik saja.” Ujar Recca yang terlihat biasa saja.

Lalu Recca pun membuka kain yang membalut luka di punggungnya, dan dia memperlihatkan luka itu kepada Andrew. Luka itu nampak sudah diobati dengan daun Aloe dengan cara sederhana.

“hmm, seharusnya daun Aloe sudah mampu membuat luka ini kering. Anehnya luka ini belum kering, sepertinya yang melukai mu ini menggunakan racun. Coba aku sembuhkan terlebih dahulu. Cure!!” terang Andrew yang kemudian menggunakan ilmu penghilang racun.

“hmm, rasanya aku sedikit lebih tenang dan tidak terengah-engah seperti sebelumnya. Terimakasih, haha.” Ujar Recca yang tampak sedikit lebih ceria dari sebelumnya.

“tunggu sebentar, biar aku pulihkan luka dan stamina mu. Heal!!” lanjut Andrew yang kemudian menggunakan mantra penyembuh untuk menormalkan kembali luka di punggung Recca.

“wah, aku begitu berterimakasih pada mu, Andrew. Akan ku traktir kau minum malam ini!” ucap Recca yang saat ini tampak lebih cerah wajahnya dibandingkan tadi yang begitu pucat.

“haha,sama-sama. Tapi sepertinya aku sudah tak mampu lagi untuk minum haha, aku mau pergi dulu. Nikmati malam mu Recca!” ujar Andrew yang saat ini sudah bergegas keluar dari bar dengan senyum yang tenang.

“Hei Andrew! Mau kemana kau??!” teriak Recca yang tidak di dengarkan oleh Andrew.

“wah tak terasa sudah jam 10 malam, pantas saja dia buru-buru pergi.” Ucap bartender di belakang Recca yang sedang mengelap gelas-gelas bir.

“memangnya dia kemana pak?” Tanya Recca yang tampak penasaran.

“dia ke Gereja, berdoa semalaman penuh untuk orangtuanya yang sudah tiada.” Ucap Bartender itu dengan iba.

“tak kusangka masih ada orang yang begitu taat seperti dia…” ucap Recca yang tampak kaget.

“haha itulah manusia, kadang ia ingin bersenang-senang namun disisi lain ia masih ingat bahwa orang tuanya membutuhkan doa dari dia agar Tuhan mengampuni dosa-dosa yang telah di perbuat orang tuanya.” Ujar sang bartender.

“sebaiknya aku beristirahat saja, terima kasih untuk kamarnya pak ^^!” ucap Recca sembari mengangkat tasnya dan menuju lantai atas untuk beristirahat.

Ragnarok Novel Part VI

Part VI Big War

Kota Geffen pagi itu cukup ramai dengan gerombolan mage yang berjalan mondar mandir mengelilingi kota menyiapkan berbagai bahan untuk ujian mereka. Para merchant di sudut-sudut kota Geffen tampak membuka lapak untuk berjualan berbagai macam perlengkapan untuk berburu.

Di tengah keramaian itu, mereka di kagetkan dengan barisan pasukan Knight yang muncul dari dalam menara utama kota Geffen, 3 Jendral berada di barisan paling depan menggunakan peco-peco milik mereka. Berbagai orang tercengang melihat begitu banyak Knight berjalan beriringan seperti dalam parade. Ketakutan dan kecemasan terpancar dari tiap sudut wajah mereka, banyak yang bingung dengan kondisi yang begitu tenang ini namun ratusan knight beriringan menuju pintu pintu barat kota Geffen.

‘Wahai para warga kota Geffen, janganlah cemas dengan apa yang kalian lihat. Aku Elder Wizard, mengumumkan bahwa para ksatria itu ada disini untuk melindungi kita dari kebangkitan sang Raja Kegelapan. Kota Geffen adalah garis depan dari seluruh Rune Midgard, sehingga untuk menahan kebangkitannya, Raja Tristan telah mengirimkan prajurit terbaik mereka untuk menyegel kembali Raja Kegelapan’ terdengar suara yang menggelegar yang meraungi tiap telinga warga di kota Geffen, ilmu berbicara dengan pikiran ini begitu kuat sehingga seluruh warga yang ada di Geffen dapat mendengar suara dari Elder Wizard.

Para warga yang tampak berkumpul melihat iringan tampak menjadi tenang dan beberapa mulai berteriak memberi semangat pada prajurit yang akhirnya sorakan-sorakan itu menjadi pengiring para prajurit yang saat ini sudah berbaris dengan rapi di pintu barat kota Geffen. Ketiga jendral yang berada di barisan depan tampak tegang dengan wajah kaku mereka, di depan gerbang barat nampak 2 orang wizard, William Wilfred dan William Renault sedang berdiri menanti kedatangan para prajurit itu.

“Jendral, apakah pasukan sudah siap untuk berangkat sekarang?” ucap Wilfred yang nampak sudah bersiap2 dengan tongkat sihirnya, disampingnya Renault terlihat tenang dengan jubah wizard yang menutupi kedua tangannya.

“Lebih baik kita berangkat sekarang, karena aku tidak ingin membuat prajurit ku menjadi kehilangan konsentrasi karena pawai dadakan ini.” Ucap Yugo yang nampak telah bersiap dengan peco-peco miliknya.

“aku pikir juga sebaiknya kita berangkat sekarang, karena aku semalam mendengar kabar bahwa pasukan dari jendral Radman sudah berhasil mencapai Glast Heim, dan sudah membuat jalur untuk prajurit kita menembus Glast Heim, jadi sebaiknya kita segera berangkat. Aku perkirakan kita bisa mencapai Glast Heim dalam waktu kurang dari 2 hari bila melewati jalur yang di buat pasukan jendral Radman.” Ucap Albern yang diikuti Dilwyn yang mengangguk di belakangnya.

Tanpa banyak berkata-kata lagi, dengan diiringi Wilfred dan Renault mereka semua keluar dari kota Geffen melalui gerbang barat Kota. Derak langkah para prajurit begitu keras walau teriakan semangat yang semakin banyak mengiringi mereka. Wajah para prajurit itu tenang bagaikan mereka telah siap mati untuk melindungi seluruh Rune Midgard dari para iblis itu.

Segerombolan pasukan knight dengan pakaian yang sudah kotor dan lusuh terlihat sedang mengendap-endap di samping dinding pelindung Glast Heim, wajah mereka begitu tegang dan cemas. Di depan para knight itu tampak defender Rai Lightbringer yang sedang mengawasi gerbang Glast Heim denan tenang dan tegang. Sedikit demi sedikit, rai mendekati gerbang itu dan melihat keadaan di dalam kerajaan itu.

Tampak keadaan di dalam pekaangan Glast Heim begitu sepi dan hanya terlihat bangunan-bangunannya yg berantakan di tambah tumbuhan-tumbuhan yang hidup tak terawat disana. Rai kemudian beranjak dari tempat pengintaiannya dan berjalan dengan tenang ke dalam kawasan Glast Heim diikuti oleh pasukannya. Rai tampak khawatir melihat keadaan Glast Heim yang begitu tenang dan bahkan sepertinya para iblis itu tidak pernah ada di Glast Heim ini.

Pasukan knight yang dipimpin Rai itu berjalan menelusuri bangunan-bangunan GLast Heim satu persatu hingga mereka mencapai kastil utama Glast Heim. Melihat kondisi di sekitar kastil itu begitu tenang, Rai memutuskan untuk memasuki kastil itu. Saat ia dan pasukannya hendak melangkah ke dalam kastil, terdengar derap langkah kuda yang begitu menggetarkan tanah. Keadaan pasukan Rai pun menjadi siaga dan siap bertempur kapan saja.

Tak berapa lama setelah mereka merasakan derap langkah kuda yang begitu keras itu, keadaan di sekitar kastil itu tampak begitu dingin dengan angin yang berhembus cukup kencang membuat bulu kuduk para prajurit itu berdiri. Rai pun tampak mencabut pedangnya dan memposisikan dirinya dalam keadaan siap bertempur.

Di halaman depan kastil itu pun tiba-tiba muncul sebuah lingkaran sihir berwarna hitam, selang beberapa detik setelah kemunculan portal sihir itu. Terdengar derak kaki yang di seret dan suara besi yang di seret menyentuh tanah, bersamaan dengan itu munculah belasan iblis Jendral kegelapan yang konon bernama Khalitzburg, iblis ini memiliki wujud tulang belulang yang dibalut helm tulang. Keseluruhan badannya berwarna hitam, sebuah besi panjang yang tampak sudah berkarat tampak berada dalam genggamannya.

Setelah di kagetkan oleh kedatangan puluhan Khalitzburg, Rai dan pasukannya semakin terkejut dengan kemunculan sesosok ksatria berkuda hitam yang muncul dari portal yang sama dari kemunculan para Khalitzburg itu. Wujudnya begitu besar, 4 kali lebih besar dari seorang knight biasa. Ksatria ini memakai baju besi berwarna gelap dan membawa pedang panjang yang juga luar biasa besar, kuda yang dinaikinya pun berwarna hitam dan menggunakan pelindung dari besi yang berwarna hitam pula.

“Pasukan ku, tenang dan jangan panic. Percayalah bahwa Tuhan pasti membimbing kita untuk mengalahkan para iblis ini.” Ucap Rai yang tampak mengeluarkan keringat dingin setelah melihat puluhan Khalitzburg yang dipimpin oleh seorang Abyssmal Knight menghadangnya.

“Selamat datang di Glast Heim, defender muda! Aku sang Abyssmal Knight tidak akan membiarkan kalian mengganunggu kebangkitan dari pangeran Kegelapan!” ucap ksatria hitam itu dengan suara yang begitu menggelegar.

“Cobalah halangi kami, teman2 bersiaplah!!” Teriak Rai dengan menghapuskan ketakutan pada dirinya dan pasukannya.

“PRAJURIT! SERANG!” ucap Abyssmal Knight yang seketika membuat para Khalitzburg yang ada di depannya bergerak menyerang pasukan Rai.

“Jendral Yugo, sejauh ini yang saya rasakan hanya hawa kegelapan yang semakin besar saja. Dan saya yakin bahwa jalan yang kita lewati ini memang jalan yang telah di tunjukkan oleh pasukan Jendral Radman.” Ucap Wilfred kepada Yugo yang berada di depan barisan prajurit knight.

“Tapi aku merasa aneh, selama kita melakukan perjalanan 2 hari ini. Kita hanya beristirahat sekali namun kita belum melihat adanya Glast Heim di seberang sana.” Ucap Yugo yang nampak mengkhawatirkan pasukannya yg mulai kelelahan.

“atau mungkin kita istirahat dulu untuk malam ini?” Ucap Albern yang sedari tadi juga memperhatikan kondisi pasukan mereka yg cukup kelelahan.

“Mungkin memang lebih baik kita beristirahat dulu semalam disini. Baru besok pagi kita lanjutkan perjalanan.” Ucap Dillwyn menanggapi ucapan Albern.

“baiklah, PARA PRAJURIT! Kita berhenti dulu disni, pasang tenda. Besok kita lanjutkan perjalanan!” Perintah Yugo kepada pasukannya, yang setelah mendengar ucapan dari jendralnya itu, seketika ratusan prajurit itu dengan cepat membagi tugas masing dan berpencar untuk memasang tenda dan menyiapkan alat dan bahan untuk memasak.

Kegelapan menyelimuti ruangan itu, jarak pandang pun hanya beberapa meter saja. Di ruangan itu hanya ada Yugo yang tampak bingung dengan kondisi di sekitarnya yang tidak pernah ia ketahui. Beberapa menit setelah Yugo tampak berdiri tanpa ada gerakan untuk menjelajahi tempat itu, tiba-tiba cahaya mulai menerangi ruangan yang di pancarkan dari obor-obor yang menempel di dinding ruangan.

Dengan penerangan sederhana, Yugo dapat melihat kondisi di sekitarnya. Bangunan yang cukup tua dengan dinding-dinding retak menghiasi ruangan. Sambil menyesuaikan matanya pada keadaan di sekitar yang tiba-tiba menjadi terang, Yugo merasa di perhatikan oleh seseorang. Setelah matanya dapat beradaptasi dengan kondisi sekitar, akhirnya ia sadar bahwa di hadapannya terdapat 2 buah singgasana berwarna merah lusuh, dan di singgasana itu nampak duduk seseorang yang sangat ia kenal. Orang itu menggunakan baju besi seperti knight, namun baju besinya berbeda dan tampak lebih berwibawa dan memiliki ukiran yg berbeda. Menurut yang Yugo tahu, baju itu adalah baju besi kuno yang di pakai oleh para Lord Knight terdahulu.

Matanya yang sudah terbiasa dalam penerangan yang temaram itu pun akhirnya dapat melihat wajah dari knight yang sedang duduk di hadapannya itu. Seluruh tubuh Yugo bergetar dan terkejut sekaligus ketakutan setelah melihat siapakah yang ada di hadapannya. Beberapa detik berlalu tanpa ada satu suara pun yang terdengar, di hadapan Yugo tampak dirinya sendiri. Yugo yakin ia tidak sedang memandang cermin, karena sosok di hadapannya itu sedang duduk dengan bersandar pada lengan kanannya sedangkan ia sendiri sedang berdiri.

“kau…? Aku…?? i..i..ini dimana?” ucap Yugo yang masih dibingungkan oleh keadaan di sekitarnya.

Lord Knight itu seperti tidak melihat Yugo yg sedang berdiri di hadapannya, pandangannya masih tetap kosong dan menerawang jauh ke depan. Ia hanya sesekali memainkan kalung yang sedang ia pakai, kalung itu memiliki Kristal yang cukup indah, berkilauan dengan warna biru langit.

“Hei! Kau! Ini dimana?!” Ucap Yugo dengan nada yang sedikit tinggi, namun tetap saja Lord Knight itu tidak mendengar apapun yang Yugo ucapkan. Beberapa detik setelah itu, terdengar langkah kaki dari arah belakang Yugo. Keadaan ruangan yang sunyi membuat langkah itu terdengar keras dan berat. Seketika itu, Yugo mengalihkan pandangan dari Lord Knight itu menuju suara langkah kaki yang ada di belakangnya. Lagi-lagi ia begitu terkejut dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

“Dillwyn?!” ucap Yugo lirih.

Keadaan masih sunyi beberapa menit kemudian, barulah setelah Dillwyn berada di depan singgasana ia berlutut dan mengucapkan sesuatu.

“Pangeran Kegelapan, apa lagi yang kita tunggu. Aku dengar bahwa ada beberapa petualang yang ingin menjatuhkan kekuasaan mu.” Ucap Dillwyn yang saat ini suaranya lebih berat dari biasanya dan terdengar begitu tenang namun menusuk telinga.

“Tenanglah, mereka takkan mampu mengalahkan aku. Aku hanya sedang mengumpulkan energy untuk membangkitkan sang Satan. Jadi biarkanlah mereka, anak muda memang penuh dengan gejolak. Seperti kita dulu…” Ucap Lord Knight itu.

Tiba-tiba waktu seperti berhenti dan keadaan menjadi terang dan semakin terang. Dan ketika cahaya semakin menyilaukan mata, Yugo tampak terbangun dari mimpinya. Ia saat ini terbangun di dalam tenda putih, dengan keringat yang berucucuran dari tubuhnya. Baju besinya tampak berada di atas meja dengan berantakan.

“apa itu tadi?! Aku? Dillwyn?” Ucap Yugo dengan gemetar.

Setelah ia terjaga dari tidurnya, ia segera keluar tenda dengan gelisah. Ia pun kemudian mencuci mukanya di sungai sebelah selatan tak jauh dari tenda tempat ia bermalam. Pagi itu ia lewati dengan keadaan khawatir akan mimpinya tadi.

“Yugo, Dillwyn! Sebaiknya kita segera berangkat siang ini, aku ragu jika kita menunda lagi kita tidak akan bisa sampai tepat waktu.” Ucap Albern yang sudah siap dengan pakaian besinya dan sedang sarapan dengan semangkuk sup jagung.

“Baiklah, setelah kita selesai sarapan. Kita bereskan ini semua lalu lanjutkan perjalanan.” Ucap Yugo yang saat ini pun sedang menikmati semangkuk sup jagung.

Setelah menikmati sarapan dan membereskan tenda sekaligus mematikan api, mereka melanjutkan perjalanan menuju Glast Heim. Rombongan Kngiht itu pun nampak sudah segar kembali, dan tampak beberapa dari mereka sudah mampu bersantai dengan bersenandung pelan dan ada pula yang bersiul ditemani hembusan angin hutan yang sepoi-sepoi.

Selama beberapa jam mereka mengikuti jalur yang dibuat oleh pasukan divisi keempat, akhirnya di sore hari mereka sudah dapat melihat Glast Heim dari kejauhan. Dan mereka pun memutuskan untuk bermalam kembali di daerah dekat Glast Heim, sekaligus menyusun strategi penyerangan untuk esok hari.

Setelah tenda didirikan dan keadaan pun sudah tampak malam, para pasukan itu nampak sudah beristirahat dan menyimpan tenaga untuk besok. Namun di tenda para jendral nampak cahaya masih bersinar, didalam terlihat 5 orang sedang berdikusi tentang strategi penyerangan yang akan dilakukan besok pagi.

“Tuan Yugo, sampai saat ini saya belum merasakan juga dimana hawa keberadaan pasukan divisi keempat. Apa kita tetap akan menyerang besok pagi tanpa mengetahui keadaan disana?” Ucap Wilfred

“sudah tidak ada waktu lagi, lagipula aku yakin mereka sudah berada di dalam Glast Heim dan menunggu bantuan dari kita.” Ucap Yugo dengan kaku.

“aku pun merasa bahwa sebelum pasukan kegelapan itu bertambah kuat saat kebangkitan sang Raja Kegelapan, sebaiknya kita serang segera.” Ucap Dillwyn dengan tenang.

“baiklah, tanpa banyak berdebat. Intinya besok pagi kita serang Glast Heim, dan menurut berita bahwa pusat dari sang Raja itu ada di kastil utama. Jadi besok aku dan Wilfred sekaligus Renault akan membukakan jalan untuk Yugo dan Dillwyn agat kalian berdua dapat masuk ke dalam kastil lalu menghancurkan pusatnya.” Ucap Albern yang menyimpulkan strategi yang di rencanakan.

“baiklah, dan tambahan untuk Albern. Aku ingin kau mencari Jendral baru itu, semoga dia cukup kuat untuk bertahan disana. Baiklah sekarang sebaiknya kita beristirahat agar besok kita memiliki tenaga untuk penyerangan ini.” Ucap Yugo mengakhiri rapat mereka malam itu.

Setelah rapat selesai, para jendral dan dua orang Wizard itu kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat dan melewati malam dengan tenang.

Pagi hari, mereka hanya membereskan tenda dan merapikan beberapa perlengkapan mereka. Kali ini mereka semua nampak tenang dan tegang. 2 jam berlalu untuk membereskan tenda dan sarapan, mereka pun segera melanjutkan perjalanan mereka menuju GLast Heim, hanya beberapa jam saja mereka sudah tiba di samping gerbang besar Glast Heim yang nampak sepi dan seperti tidak ada siapapun.

Tanpa ada perasaan curiga, Yugo dan para pasukan memasuki Glast Heim dengan siaga. Di dalam, Glast Heim tampak sepi dan tidak berpenghuni. Namun, beberapa menit setelah para prajurit itu memasuki Glast Heim, terdengar gemerincing baju besi yang saling beradu. Tak hanya satu atau dua yang terdengar, gemerincing ini terdengar begitu ramai dank eras. Beberapa menit setelah itu, nampak ratusan Raydric muncul dari balik bangunan bagian depan Glast Heim. Barisan Raydric itu menghadang jalan dan tampak di bagian belakang terlihat monster yang begitu besar dengan pedang bergerigi seperti gergaji berada di tangan kanannya. Di tangan kirinya terdapat perisai berwajah mengerikan yang begitu besar, sebesar badannya. Monster ini dikenal dengan nama Bloody Knight, barisan Raydric yang ada di depan Bloody Knight itu merupakan iblis baju besi yang hidup tanpa ada yg memakainya. Raydric merupakan iblis yang terlahir dari arwah gentayangan para prajurit kerajaan Glast Heim yang mati karena kutukan dewa Chaos dan arwahnya hidup dalam bentuk baju besi.

“PASUKAN KU! TIDAK ADA TEMPAT LAGI UNTUK MUNDUR,SEKARANG ADALAH WAKTU DIMANA KITA BERTEMPUR DEMI KEDAMAIAN RUNE MIDGARD! SERANGGGGG!!!” Teriak yugo pada pasukannya yang diikuti dengan teriakan pemberi semangat. Segera setelah teriakan itu dikumandangkan, Yugo dan para jendral diikuti oleh para prajurit di belakangnya berlari menembus dinding pertahanan yang dibuat oleh para Raydric itu. Keadaan pasukan pun menjadi terpecah dan sedikit tertekan oleh serangan yang dilakukan oleh para Raydric, beberapa tampak kewalahan karena mereka seperti memukul baju besi yang tidak ada orangnya.

“PASUKAN,HANCURKAN BAJU BESINYA DAN TUSUK DIBAGIAN TENGAHNYA!” Teriak Albern memberikan komando kepada prajuritnya.

“Dillwyn, ayo kita terobos! Barisan pasukan ini, kita kalahkan Bloody Knight itu dan segera menuju kastil utama!” ucap Yugo yang sedang menangkis serangan dari dua Raydric sekaligus kepada Dillwyn di sampingnya.

Tanpa mengucapkan satu kata pun, mereka berdua menerobos paksa barisan Raydric yang ada di hadapannya. Namun mencapai bagian tengah barisan Raydric itu, mereka terkepung dan sulit untuk menerobos lagi dan terlihat mereka terdesak.

“Strom Gust!!” teriak Wilfred yang diikuti dengan munculnya badai salju di sekeliling Yugo dan Dillwyn yang membuat para Raydric itu mundur terkena hempasan sihir es itu.

“Jendral Yugo, aku akan membukakan jalan unuk anda dan juga jendral Dillwyn agar bisa segera menuju kastil utama.” Ucap Wilfred yang sedang merapal mantera lanjutan setelah Storm Gust.

“Lord Of Vermillion!!” Teriak Wilfred yang kemudian muncul petir yang luar biasa besar menghantam para Raydric yang telah membeku karena Storm Gust tadi.

Dengan mudah Yugo dan Dillwyn menerobos barisan Raydric yang telah hancur itu menuju Bloody Knight yang sedari tadi hanya memperhatikan dari kejauhan.

Segera setelah mendekati Bloody Knight itu, Yugo melompat dan menebas bagian tubuh dari Bloody Knight itu. Diikuti Dillwyn yang menyerang Bloody Knight dari bawah,beberapa jurus dilancarkan oleh Dillwyn untuk menghantam Bloody Knight itu. Namun tampaknya Bloody Knight itu tidak merasakan apapun,dan masih diam tanpa menyerang sedikitpun.

‘jendral Yugo dan jendral Dillwyn, serahkan Bloody Knight itu padaku. Jendral segera menuju kastil utama saja.’ Terdengar suara Renault yang dikirimkan melalui pikiran.

“Baiklah,berhati-hatilah Renault! Ayo Dillwyn!” ucap Yugo yang kemudian meninggalkan Bloody Knight yang berdiri bagai patung itu.

Dalam beberapa menit saja, Yugo dan Dillwyn tampak sudah berada di depan pintu masuk kastil utama. Saat mereka berada di dalam ruangan, tampak seorang Wanderer menghadang mereka dengan tenang. Kepalanya yang berbentuk tengkorak menyeringai seperti ingin membunuh.

“Two-hand Quicken!!” Teriak Yugo yang terlihat kelincahan gerakannya menjadi bertambah setelah menggunakan jurus itu.

Dengan tenang, Wanderer itu mendekat dan tiba-tiba menghilang dari pandangan Yugo dan Dillwyn. Tanpa disadari, Wanderer itu sudah berada di belakang mereka berdua dan menebas punggung Dillwyn namun hanya mengenai lengan kirinya yang mengakibatkan lengannya tidak dapat digerakkan dengan cepat, seketika mereka berdua kembali siaga.

Dengan cepat Yugo mengambil kesempatan saat Wanderer itu t0idak siap untuk menyerang. Tampak Wanderer itu hendak menghindar, namun tak ada waktu. Dan pedang Excalibur itu hanya seperti menebas angin, Wanderer itu terlihat tersenyum kecil dan mulai bergerak untuk menyerang lagi. Dengan cara yang sama, sang Wanderer menghilang dari pandangan Yugo dan Dillwyn. Kali ini Yug dan Dillwyn tampak saling membelakangi untuk mencegah serangan dali belakang seperti sebelumnya. Namun ternyata Wanderer itu melompat dan melancarkan tebasan ke arah Yugo. Dalam kondisi tidak siap, tebasan itu menghantam tubuh Yugo. Tapi Yugo tampak baik-baik saja dan tiak terlihat terluka sedikit pun.

“Sacrifice!!” teriak seseorang yang tak tampak dari mana arahnya.

Dari balik pilar di sebelah kanan ruangan, muncul seorang Defender yang sudah dalam kondisi luka parah dan baju besi yang rusak. Tubuhnya lusuh,dan seperti sudah tidak kuat untuk berdiri lagi.

“Dillwyn, selamatkan Defender itu! Biar aku atasi iblis satu ini!” Perintah Yugo yang diikuti dengan seranan frontal menuju Wanderer yang sedang lengah

Yugo hanya mampu menahan dn menangkis tiap serangan dari Wanderer, karena tiap serangan yang dilancarkan oleh Yugo selalu tidak dapat melukai Wanderer itu.

“Kau tidak apa-apa? Kau dari divisi keempat ya? Dimana yang lain? Minumlah White Potion ini untuk menutup beberapan luka dan memulihkan sedikit energy.

Defender itu segera meminum White potion yang diberian oleh Dillwyn,dan setelah efek dari potion itu terlihat, barulah ia berbicara dan menjelaskan keadaan yang terjadi.

“Ak…u, Rai Lightbringer Jendral baru….yang diangkat oleh Jendral Radman untuk memimpin…pasukan…divisi keempat.” Ucap Rai yang masih menahan beberapa lukanya.

“aku Dillwyn Jendral divisi kedua, itu Yugo Jendral divisi pertama. Lalu dimana mantan Jendral Radman dan pasukanmu?” Ucap Dillwyn yang tampak tergesa-gesa ingin membantu Yugo karena terlihat Yugo terdesak dengan serangan yang di berikan oleh Wanderer itu.

“Nanti aku ceritakan, kita kalahkan dulu Wanderer itu. Yang bisa mengalahkannya hanya kekuatan Holy, jadi alihkan perhatiannya dan aku akan menyerangnya.” Ucap Rai yang staminanya tampak sedikit pulih walau masih terlihat ia menahan luka dibeberapa bagian tubuhnya.

Tanpa aba-aba, Dillwyn melesat menyerang Wanderer itu dan membantu Yugo mendesak sang Wanderer dengan serangan frontal. Walau serangannya selalu meleset, namun mereka berhasil mendesak sang wanderer dan tanpa sadar Wanderer itu sudah berada di depan Rai yang sedari tadi sudah bersiap-siap dengan pedangnya. Ketika Dillwyn berhasil menjatuhkan muramasa milik sang Wanderer dan membuat ia lengah sesaat, Rai menyerang tubuh Wanderer itu dengan kekuatan holy.

“HOLY CROSS!!” Teriak Rai dari belakang sang Wanderer.

Dengan kekuatan suci yang disalurkan pada pedang miliknya, ia membuat goresan salib di punggung sang wanderer yang membuat wanderer itu terluka cukup parah.

“Kurang ajar! Sebaiknya aku segera menaruh kalung ini di tempat yang raja perintahkan.” Ucap wanderer itu. Dalam kondisi terluka, ia berlari pergi dari ruangan itu dan menuju ruangan lain.

Setelah sang Wanderer pergi, Yugo dan Dillwyn mengobati Rai sebisa mungkin sambil mendengarkan seluruh cerita yang Rai alami, mulai dari penyerangan sang Wanderer terhadap Jendral Radman. Kalung Cassiopeia yang merupakan kunci pembuka segel kegelapan.

“…Ketika aku dan pasukan ku dihadang oleh Abyssmal Knight itu, seluruh pasukan ku berhasil mengalahkan seluruh Khalitzburg. Namun Abyssmal Knight itu berhasil membunuh seluruh pasukanku, dan aku harus menggunakan Grand Cross untuk membunuh Abyssmal Knight itu. Dan itu pula yang membuat luka ku semakin parah. Aku mendengar dari perkataan Abyssmal Knight itu bahwa ada orang yang saat ini sedang mempersiapkan kebangkitan Raja Kegelapan di kastil utama.” Tegas Rai yang saat ini sedang beristirahat dan memulihkan tenaga dengan menggunakan White Potion.

“Hmm, jadi begitu. Baiklah Dillwyn, kau kejar Wanderer tadi dan rebut kalung Cassiopeia sebelum ia berhasil menggunakannya. Aku akan menghentikan orang itu sebelum persiapannya selesai. Dan untuk kau Jendral Rai, sebaiknya anda keluar dan menemui prajurit ku. Bilang pada mereka untuk mengantarkan anda pada Jendral Albern, beliau akan mengobati anda.” Perintah Yugo.

“Baiklah Jendral Yugo, Semoga berhasil untuk kalian berdua.” Mengakhiri kalimat itu, mereka bertiga berpencar ke arah masing-masing.

Yugo terlihat memasuki ruangan kastil utama dan segera menuju ruangan paling atas yang merupakan ruangan sang Raja. Keadaan tampak sunyi tanpa ada siapapun disana, Yugo pun merasa bahwa ruangan itu seperti pernah ia datangi sebelumnya. Kemudian pun ia tersadar bahwa ruangan itu adalah ruangan yang ia lihat dalam mimpinya, namun ruangan ini tampak lebih berantakan dibandingkan yang ada di mimpinya.

Di depannya terdapat singgasana kosong yang di sampingnya terdapat sesosok pria berjubah hitam dengan sebuah mahkota yang ada ditangannya. Mahkota itu tampak kusam namun permatanya masih berkilauan di tengah kegelapan ruangan.

“selamat datang, tuan Yugo. Silahkan duduk terlebih dahulu karena ada yang ingin berbicara dengan anda.” Ucap pria berjubah itu.

“jangan main-main! Hentikan sekarang juga ritual ini! Atau akan aku hentikan dengan paksa!” bantah Yugo dengan keras.

Tiba-tiba angin dingin berhembus dengan kencang di ruangan itu dan di depan singgasana kosong itu tampak muncul sebuah portal sihir berwarna hitam. Beberapa detik kemudian dari dalam portal itu muncul sesosok yang cukup besar menggunakan jubah hitam panjang. Kepalanya berbentuk tengkorak dengan sebuah tongkat sihir ada di samping kanannya melayang-layang menggunakan sihir.

“selamat datang Dark Lord, ini adalah calon penerus sang Raja Kegelapan.” Ucap pria berjubah hitam sambil menunjuk Yugo.

“Apa maksud pembicaraan kalian?” ucap Yugo dengan kebingungan.

“baiklah kalau begitu, saya akan segera memulai ritual pembangkitan ini.” Ucap sang pria berjubah kepada Dark Lord yang sedari tadi sedang merapalkan mantera sihir.

Dalam keadaan bingung, Yugo melesat menuju sang Dark Lord yang sedang merapal mantera. Dengan cekatan ia melompat begitu tinggi dan menebaskan pedangnya dari atas.

Ketika pedang Excaliburnya menyentuh kepala tengkorak Dark Lord, waktu seakan berhenti dan kegelapan yang begitu pekat terpancar dari tubuh sang Dark Lord. Cahaya itu seketika menembus atas kastil dan membuat sebuah garis hitam yang menuju langit gelap dengan petir yang menyambar.

Ragnarok Novel Part V

Part V Recall the Memories

Langit gelap selalu berada di atas kerajaan itu, walau tak pernah sekalipun turun hujan, namun awan mendung selalu menghiasinya entah siang atau malam. Keadaan bangunannya sudah hancur dan sudah mulai banyak lumut yang menempel di tiap bangunannya. Tumbuhan-tumbuhan liar hidup tanpa pernah terawat dengan baik.

Dahulunya, kerajaan ini merupakan pusat pemerintahan dari Rune Midgard. Namun karena kebengisan dan ketamakan sang raja pada saat itu, dewa Chaos mengutuk kerajaan ini sehingga runtuh. Sampai sekarang, tidak ada yang pernah tahu apa yang terjadi dengan sang raja. Mereka hanya tahu bahwa kerajaan itu telah berubah menjadi kerajaan para iblis terkutuk, rumornya bahwa sang raja tersebut masih memimpinnya namun dalam wujud sebagai Dark Lord sang Pangeran Kegelapan.

Hingga sekarang, mungkin tak ada satu orang pun yang pernah menginjakkan kakinya ke tanah Glast Heim. Walau mungkin ada yang berhasil sampai di Glast Heim, namun hampir tidak ada satu pun yang berhasil kembali dengan selamat. Berbagai monster dan iblis yang menjaga Glast Heim akan menghabisi siapapun yang memasuki kawasan kerajaan, sehingga tak satu pun orang yang ingin kesana. Kerajaan itu di bentengi oleh tembok besar yang mengelilingi seluruh area disana, walau tampak kumuh dan penuh dengan lumut, tembok -temboknya masih berdiri tegak tanpa terlihat rusak atau hancur.

Di bagian tengah dari area kerajaan Glast Heim itu, terdapat sebuah bangunan yang paling besar dibandingkan bangunan lainnya. Bangunan itu adalah kastil utama Glast Heim, walau dinding bangunannya banyak yang retak dan terasa hampir runtuh, akan tetapi masih tetap berdiri dengan kokohnya bahkan sangat kokoh sehingga sulit dipercaya bahwa bangunan ini sudah berdiri lebih dari 500tahun lamanya.

Di hari itu, tampak kastil utama adalah satu-satunya bangunan yang paling hidup dan terlihat seperti terjadi sesuatu didalamnya. Di luar bangunan tampak seseorang menggunakan jubah hitam yang menutupi kepala dan hampir sebagian tubuhnya. Kakinya di balut oleh pelindung besi yang membuatnya tampak tidak bisa bergerak dengan mudah, namun gerakannya masih tetap cepat walau terlihat bahwa bisa dengan mudah ia bisa jatuh bila menggunakan pakaian seperti itu. Ia memasuki kastil itu dengan langkah yang cepat namun teratur, anehnya sama sekali tidak terlihat para monster dan iblis yang kabarnya menjaga Glast Heim itu. Pria berpakaian hitam itu dengan mudah memasuki kastil tanpa ada halangan apapun.

Di dalam kastil tampak tidak terlalu terang, sinar matahari hanya masuk beberapa sentimeter dari celah-celah bangunan yang retak. Anehnya obor-obor penerang menyala tanpa pernah berhenti atau kehabisan minyak. Di beberapa bagian terdapat berbagai patung dan lukisan yang sudah tampak usang dan begitu berdebu, dengan tenang pria itu menaiki tangga yang membawanya menuju 1 pintu yang begitu besar. Ruangan depan bagian dalam kastil itu seperti kastil-kastil pada umumnya, yang membedakannya hanya keadaannya yang sudah sangat buruk dan hancur, debu dan sarang laba-laba terlihat di berbagai sudut ruangan. Banyak juga hiasan baju besi yang di rangkai sehingga terlihat seperti prajurit berbaju besi yang bergeletakan di lantai kastil.

Tanpa banyak bicara, pria itu membuka pintu besar dihadapannya dan masuk ke dalam. Dibandingkan dengan ruangan lain yang ada disamping kiri dan kanan pintu itu, tampak bahwa ruangan satu ini adalah yang paling besar dan paling megah yang pernah di bangun sepanjang 500tahun terakhir ini. Ketika pria itu memasuki ruangan yang baru saja ia buka, ia langsung di hadapkan pada 2 tangga besar di kiri dan kanan yang menuju ruangan paling atas yang merupakan singgasana sang raja dari kerajaan Glast Heim. Dengan gerakan yang begitu cepat, pria itu melompat dan menghilang dalam beberapa detik. Dan dalam waktu kurang dari 2 menit ia sudah berada di depan singgasana raja yang tampak usang di bagian paling atas ruangan kastil. Di sekliling ruangan tampak di terangi oleh cahaya obor yang menari-nari dan seakan takkan pernah mati.

Singgasana itu terdiri dari 2 kursi berwarna merah darah yang sudah tercampur dengan berbagai debu dan sarang laba-laba. Area ruangan di sana sangat besar dengan beberapa dinding yang nampak sudah runtuh dan membuat keadaan ruangan menjadi begitu kotor dan padat oleh reruntuhan bangunan bagian dalam. Pria itu berdiri menghadap singgasana dan mulai mengucapkan sesuatu yang terdengar aneh.

“mereka sudah bersiap menyerang kastil ini tuan, apakah tuan tidak ingin mengerahkan pasukan untuk menyerang mereka?” ucap sang pria sambil berlutut di depan singgasana yang kosong itu.

Tiba-tiba angin mulai berhembus, dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang.terlihat sekilas pria berjubah hitam itu menggigil kedinginan. Api dari obor-obor di dinding tampak bergoyang kencang namun tidak mati. Lingkaran debu berwarna hitam mulai mengelilingi singgasana di depan pria itu. Dalam hitungan beberapa detik saja seseorang dengan tubuh yang cukup besar berada di hadapan pria berjubah hitam itu muncul dan segera duduk di singgasana.

“dengarkan baik-baik, biarkan mereka menyerang. Jika mereka ingin menghancurkan ku sebelum aku sempurna, biarkan saja. Karena aku butuh mereka untuk kebangkitan ku, tugas mu hanya mengawasi mereka saja.” Ucap laki-laki yang duduk di singgasana, suaranya besar dan menggema di seluruh ruangan.

“baik tuan, saya mengerti” selesai mengucapkan kalimat itu, pria berjubah itu hilang.

“Dengan kedatangan mereka,aku mampu menciptakan Ragnarok dan aku pasti bisa menguasai Rune Midgard dengan benda itu! Hahahaha!!” Tawa laki-laki itu membahana sekaligus lenyap pula pria itu dengan angin hitam yang berhembus.

“Jendral! Glast Heim sudah dapat kita lihat dari sini!” teriak seorang prajurit yang berada di garis depan.

“Jendral Radman, anda masih dapat bergerak kan? Di depan Glast Heim sudah dapat terlihat, sebaiknya kita beristirahat dulu semalam disini” Ucap Rai Lightbringer yang sedang membopong Jendral Radman.

“Rai, aku sudah ingatkan berapa kali? Kau sudah resmi menjadi Jendral sekarang, para pasukan mu juga sudah tahu itu, jadi buat apa kau memanggil ku jendral lagi?” ucap Radman dengan wajah yang terlihat pucat.

“selama Jendral masih hidup dan masih bergabung dalam barisan pasukan ini, aku tidak akan pernah mau disebut sebagai jendral.” Ucap Rai

Barisan pasukan itu terlihat mulai menerobos hutan Mjolnir barat untuk membuka jalan menuju Glast Heim. Keadaan gunung Mjolnir yang tidak rata membuat pergerakan pasukan ini menjadi lambat dan membutuhkan waktu lama untuk mencapai Glast Heim. Suasana siang itu cukup sejuk dengan keadaan hutan yang dingin sehingga menetralkan terik matahari.

Tiba-tiba ketika mereka berusaha untuk keluar dari hutan yang rapat menuju daerah lapang untuk membangun tenda peristirahatan, terlihat beberapa Sky Petite yang sedang terbang di atas hutan. Hewan naga berwarna abu-abu itu melihat rombongan pasukan itu dan mulai menyerang mereka.

Keadaan pasukan sempat kacau dengan serangan yang mendadak itu, namun dengan sedikit perjuangan mereka berhasil mengusir para Sky Petite itu, namun belum pulih dari keadaan yang kacau setelah diserang oleh Sky petite itu, mereka tiba-tiba dikagetkan oleh suara yang misterius dan begitu menusuk pendengaran.

“Wah, senang sekali aku bisa bertemu mangsa seperti ini saat aku hendak bertemu sang Raja Kegelapan.” Terlihat seorang Wanderer muncul dari balik salah satu pohon di depan para prajurit itu, Wanderer adalah iblis dari samurai jaman dahulu yang mati dalam perjalanannya untuk berkelana. Konon saat mereka masih hidup, kemampuan berpedang mereka merupakan kemampuan pedang yang diturunkan oleh para iblis dan memiliki hawa kejahatan, sehingga ketika mereka mati mereka berubah menjadi iblis tanpa nama yang disebut sebagai Wanderer.

“Gawat, walau hanya seorang Wanderer, namun dia bisa dengan mudah membunuh kita dengan keadaan pasukan kita yang terluka seperti ini.” Ucap Radman kepada Rai.

“biarkan aku yang melawannya jendral, dengan kekuatan suci Dewi Valkyrie dan kekuatan Holy yang aku miliki, aku pasti bisa mengalahkannya.” Ucap Rai dengan meletakkan Radman di salah satu pohon dan membiarkannya bersandar pada pohon tersebut.

Melihat keadaan Rai yang belum siap untuk bertarung itu, sang Wanderer memanfaatkan kesempatan untuk menebas kedepan menuju Rai. Dalam tebasan itu, ia berhasil membunuh beberapa prajurit yang berada di depan sang Wanderer dan terlihat tidak siap menerima serangan. Mayat-mayat itu ditinggal begitu saja oleh Wanderer itu, ia lebih focus untuk menebas Rai. Dalam beberapa detik pergerakan yang begitu cepat, ia berhasil mengayunkan pedangnya ke arah Rai yang tampak belum sempat meraih pedangnya. Namun Perisai Hylian miliknya berhasil menangkis serangan Wanderer itu dan membuatnya mundur beberapa langkah

“Kurang ajar kau! Beraninya membunuh pasukan ku!” Teriak Rai yang kemudian mencabut pedangnya dan maju menyerang sang Wanderer.

Dengan gerakan yang begitu cepat, Wanderer itu seperti lenyap dari hadapan Rai dan tampak sudah berada di depan Jendral Radman yang terbaring tak berdaya. Dengan satu gerakan saja pedang katananya sudah berada di samping leher Jendral Radman yang saat ini tidak mampu untuk melawan.

“Heh kau Defender, kalau kau berani maju selangkah saja. Jendral mu ini akan mati di tanganku.” Dengan satu gerakan tangan saja, Wanderer itu mampu membuat seluruh pasukan utnuk tidak bergerak dan hanya mampu melihat apa yang akan dilakukan si Wanderer terhadap Jendral mereka itu.

“Radman Paloma, kudengar kau adalah Jendral yang paling cerdas dan paling muda di antara Jendral lainnya. Namun kau sekaligus yang paling lemah di antara yang lain, karena kau tidak bisa bertarung sama sekali. Aku hanya ingin mengambil kalung yang ada di leher mu ini, karena tanpa ini benda itu takkan bisa berfungsi.” Ucap sang Wanderer kepada Jendral Radman yang tampak begitu tersiksa dengan sakitnya yang membuat tubuhnya semakin tidak bisa bergerak.

Wanderer itu dengan mudah menarik kalung yang berada di leher Radman. Dalam keadaan yang tidak siap itu, Rai melemparkan perisainya.

“Shield Boomerang!!” teriak Rai yang dengan kuat melemparkan perisainya ke arah Wanderer itu. Dalam beberapa detik,perisai itu telah sampai dan terlihat akan menghantam tubuh sang Wanderer. Namun anehnya perisai itu seperti menyerang angin. Setelah menembus tubuh Wanderer itu, perisai tersebut kembali ke tangan Rai.

“sudah kubilang untuk tidak menyerang kan?” selesai mengucapkan kalimat, sang Wanderer menebas tubuh Jendral Radman yang tidak berdaya.

Jendral Radman yang sedang dalam keadaan sakit dan tidak dapat menggerakkan badannya dengan cepat, menerima tebasan dari sang Wanderer dengan tak berdaya. Luka panjang membentang dari pundak sebelaah kirinya menuju pinggang sebelah kanan membentuk garis panjang yang berwarna merah cerah. Darah mengalir dari luka sabetan itu, tampak tenaga sang jendral semakin lemah.

“sepertinya urusan ku disini sudah selesai, sebaiknya aku segera kembali ke Glast Heim. Sampai bertemu tuan Defender.” Ucap Wanderer itu yang seketika menghilang beserta angin yang berhembus.

Dengan tergesa-gesa Rai mendekati Radman dan membuang perisainya ke tanah. Wajahnya begitu pucat melihat jendral yang ia kagumi tergeletak tak berdaya di bawah pohon dengan berlumuran darah, wajah Radman tampak tenang namun begitu pucat. Para prajurit di sekelilingnya hanya mampu berlutut tak berdaya melihat bekas jendral mereka tak bergerak. Beberapa prajurit tampak mendekati dan membuat lingkaran mengeliling tubuh Radman yang tampak lemah itu. Berbagai ekspresi kesedihan terpancar di wajah para prajurit itu.

“Jendral! Jendral jangan pergi! Jendral bangun!!” teriak Rai yang saat ini memeluk tubuh Radman yang tak berdaya,nampak air matanya menetes di kedua pipi Rai.

Nafas Jendral Radman masih berhembus tak beraturan,detak jantungnya begitu cepat. Wajahnya yang pucat tampak tak berdaya di bawah wajah Rai yang bergetar menangis.

“Ra…i! seperti yang…aku katakan waktu itu…waktu ku sudah habis,dan sekarang…adalah saatnya kamu memimpin pasukan ini…” Ucap Radman yang dari hidungnya tampak menetes darah merah segar.

“Jendral! Jangan mati! Aku memiliki ilmu penyembuhan,aku akan menyembuhkanmu Jendral! Bertahanlah!” ucap Rai dengan tangis yang semakin menjadi.

“Rai…sudahlah,walau luka ku ini sembuh…aku tidak mungkin bisa sembuh dari penyakit ku. Sekarang lebih baik dengarkan kata-kata ku ini….Kalung yang Wanderer itu ambil…. adalah kalung dengan permata Cassiopeia… dengan permata itu Raja Kegelapan dapat membangkitkan iblis terkuat di Rune Midgard…. iblis itu jauh lebih kuat dibanding Raja Kegelapan itu sendiri, aku yakin Dark Lord itu takkan mampu memperintah iblis ini….hhhh.” Ucap Radman yang saat ini semakin kehilangan tenaganya. Desah napasnya semakin memburu dan tak beraturan.

“lalu apa yang harus aku lakukan jendral?” ucap Rai yang semakin nampak cemas melihat keadaan jendralnya itu.

“perintahkan pasukan penyerbu untuk menghancurkan permata Cassiopeia itu…. permata itu adalah permata yang dapat membuat siapapun pemiliknya menjadi iblis…. Hanya keluarga Paloma yang mampu mengendalikan iblis pada permata itu….” Ucap Radman dengan terengah-engah.

“Baik jendral,akan aku perintahkan. Namun jendral,bertahanlah! Jangan pergi, ini hanya luka ringan!” Ucap Rai yang tampak putus asa melihat keadaan Radman. Dengan wajah yang penuh dengan air mata dan isak tangis,ia mencoba mempertahankan keinginan untuk hidup dari Radman.

“bagus Rai, dengan begini aku bisa pergi dengan tenang…. Jaga dan lindungilah selalu rakyat mu Rai… karena iblis takkan pernah mati dan akan selalu bangkit…. Ingat…hhh,lakukan segalanya walau kau harus membunuh sahabatmu…. saat sahabatmu sudah beralih membantu para iblis…. Tak ada manusia di dunia ini yang bisa tahan dari godaan para iblis….hhh, sucikan hati mu dan sucikan hati semua orang….” Ucap Radman dengan senyum terakhir terpancar dari wajahnya.

Ketika ia selesai mengucapkan kalimat itu, nafasnya berhembus untuk terakhir kalinya dan matanya tertutup perlahan. Tangis dari Rai membuat seluruh hutan terasa begitu sunyi dan hanya raungan kesedihan dari Rai yang terdengar. Air matanya membanjiri seluruh wajahnya dan membuat seluruh pasukan ikut dalam kesedihan yang begitu mendalam.